===============================================================
Tampilkan postingan dengan label kraton. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kraton. Tampilkan semua postingan

Labuhan Pantai Selatan

Ritual labuhan pantai selatan ini adalah ritual yang dianggap sangat penting bagi Kraton Jogja. Berbagai persembahan ditawarkan pada Kanjeng Ratu Kidul. Dilaksanakan di Parangkusumo, ritual ini bertujuan sebagai upacara permohonan untuk mendapatkan kesejahteraan dan keselamatan hidup.
Sejarahnya, Kanjeng Ratu Kidul mempunyai hubungan dengan Raja-Raja Mataram, dan ini memperkuat legitimasi Sultan-Sultan di Kraton Jogja. Kanjeng Ratu Kidul telah berjanji untuk selalu melindungi Panembahan Senopati, yang merupakan asal-usul Kerajaan Mataram, dan seluruh keturunannya apabila datang masa-masa sulit.
Menurut kepercayaan, Kanjeng Ratu Kidul memiliki seorang patih yang sangat setia dan dan sangat kuat, bernama Nyai Roro Kidul. Karenanya terdapat 2 persembahan, untuk Kanjeng Ratu Kidul yang bernama Pengajeng dan untuk Nyai Roro Kidul yang bernama Penderek.
Upacara dilaksanakan di pagi hari oleh para abdi dalem dan masyarakat. Dibuka oleh mantra dari juru kunci Parangkusumo, persembahan-persembahan yang berupa pakaian wanita, alat-alat rias, sirih, bunga, dan "ubo rampe" lainnya dihanyutkan ke laut selatan.
Dalam ritual ini, Sri Sultan, sebagai raja yang berkuasa, juga akan mengumpulkan pakaian bekas yang pernah dipergunakan, potongan rambut, serta potongan kuku beliau. Kesemuanya itu ditanamkan di dalam areal tanah sengker – suatu area tanah yang dianggap sakral dan keramat di daerah Parangkusumo.

Tokhe on the Net
Selengkapnya...

Kain Batik

Batik memiliki beragam motif. Tak hanya dari dalam negeri, batik ada yang berasal dari mancanegara, seperti Rusia.
Di Indonesia sendiri, motif batik juga bervariasi, diantaranya adalah batik Jogja dan batik Solo. Walau keduanya menggunakan ukel dan semen-semen, namun sebenarnya kedua batik ini berbeda. Perbedaannya terletak pada warnanya. Batik Jogja berwarna putih dengan corak hitam, sedangkan batik Solo berwarna kuning dengan corak tanpa putih.
Penggunaan kain batik ini pun berbeda-beda. Di Kraton Jogja, terdapat aturan yang pakem mengenai penggunaan kain batik ini. Untuk acara perkawinan, kain batik yang digunakan haruslah bermotif Sidomukti, Sidoluhur, Sidoasih, Taruntum, ataupun Grompol. Sedangkan untuk acara mitoni, kain batik yang boleh dikenakan adalah kain batik bermotif Picis Ceplok Garudo, Parang Mangkoro, atau Gringsing Mangkoro.
Saat ini batik telah menjadi tradisi baru di tengah masyarakat. Tak hanya sandang yang menggunakan kain batik sebagai bahannya. Sarung bantal, gordyn, dan seprei pun telah ada yang menggunakan kain batik. Ini adalah awal mula yang baik bagi pelestarian seni batik. Awalnya harus mencintai dahulu, kemudian muncul rasa andarbeni (memiliki) dan akhirnya nguri-uri (melestarikan).
Kesadaran ini sudah mulai dan terus digalakkan. Batik Tamanan Kraton pun dibentuk untuk khusus membatik motif Kraton Jogja.

Tokhe on the Net
Selengkapnya...

Berebut ’Udhik-udhik’, Memburu ’Kinang’

Budaya ngalap berkah menjelang prosesi miyos gangsa Sekaten, Senin (2/3) malam di Bangsal Ponconiti, masih terasa. Ribuan orang dari berbagai wilayah memadati seputar Keben Kraton, Alun-alun Utara hingga Masjid Gedhe Kauman untuk mengikuti jalannya acara tersebut. Menandai dimulainya perayaan Sekaten dilaksanakan prosesi nyebar udhik-udhik oleh rayi dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X yakni GBPH Prabukusumo dan GBPH Yudhaningrat di Bangsal Ponconiti Keben.
Sekitar satu jam sebelumnya ratusan orang sudah menanti. Ada yang caos dhahar kepada gangsa Kyai Guntur Madu dan Kyai Nagawilaga yang dibunyikan oleh abdi dalem Kridha Mardawa. Mereka membawa bunga, kemenyan, kinang dan uang sekadarnya untuk wajib. Budaya seperti ini kata KRT Wasesowinoto yang mendapat dhawuh menyerahkan gamelan kepada panitia Sekaten, sudah ada sejak lama. Dulu, mereka melakukan itu dengan harapan mendapat berkah berupa ketenangan. Sampai sekarang budaya itu masih dilakukan. Selain caos dhahar udhik-udhik yang dilemparkan kedua rayi dalem itu juga menjadi sarana mencari ketenangan.
Di seputar Kraton juga bermunculan para pedagang pernak-pernik khas Sekaten ada sega gurih, pecut dan endhog abang yang berjualan setahun sekali dalam perayaan Sekaten dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Kyai Guntur Madu dan Kyai Nagawilaga dibawa dari Bangsal Ponconiti menuju Pagongan Lor dan Pagongan Kidul Masjid Gedhe Kauman menjelang tengah malam. Di Pagongan Lor dan Pagongan Kidul kedua gamelan dibunyikan sehari 3 kali kecuali hari Jumat sampai dibawa kembali Kraton pada malam menjelang grebeg Mulud. Dulu, bunyi gamelan ini digunakan untuk syiar agama memanggil masyarakat supaya beribadah.

sumber tokhe : Kedaulatan Rakyat
Selengkapnya...

Your Ad Here

Mesin Pencari Pekerjaan