===============================================================
Tampilkan postingan dengan label jogja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jogja. Tampilkan semua postingan

Ngalap Berkah Lewat Gunungan

Dalam setiap upacara garebeg maulud yang diadakan oleh Kasultanan Yogyakarta, ada satu kegiatan yang tidak pernah dilewatkan oleh masyarakat. Apalagi jika bukan bagi-bagi gunungan yang selalu dinantikan oleh para pengunjung yang hadir. Saking antusiasnya masyarakat untuk mendapatkan bagian dari gunungan tersebut, mereka harus berdesakan bahkan berebutan untuk mendapatkan sesajen yang dipercaya bisa membawa berkah bagi mereka yang bisa mendapatkannya. Aksi pengunjung demikian disebut juga sebagai ngalap berkah atau mencari berkah.
Gunungan berasal dari kata gunung karena sesajen yang diusung bentuknya menyerupai gunung. Ada enam jenis gunungan yang dikenal oleh masyarakat yaitu gunungan lanang, gunungan wadon, gunungan gepak, gunungan pawuhan, gunungan dharat, serta gunungan kutug/bromo. Namun dari keenam gunungan tersebut hanya lima saja yang selalu disajikan dalam setiap grebeg yaitu semua yang telah disebutkan sebelumnya, kecuali gunungan kutug/bromo. Gunungan kutug/bromo sendiri hanya dibuat setiap delapan tahun sekali, bertepatan dengan tahun Dal.
Jika Anda berkesempatan untuk menyaksikan prosesi arak-arakan gunungan pada acara grebeg mulud, maka Anda bisa melihat ada enam belas orang yang memikul setiap gunungan. Untuk gunung lanangan, diperlukan tambahan satu orang untuk memegang tongkat. Tongkat itu bukan sembarang tongkat karena salah satu ujungnya harus ditekan ke bagian puncak gunungan agar dapat tegak lurus selama diusung ke Masjid Besar melewati Sitihinggil, Tratag Pagelaran, sampai Alun-Alun Utara.
Isi dari gunungan juga bervariasi. Untuk gunungan lanang misalnya, berisi antara lain hasil tanduran atau tanaman rakyat seperti kacang panjang dan cabai merah selain adapula tumpeng nasi. Gunungan gepak terbuat dari kue-kue kecil yang memiliki lima macam warna yaitu warna kuning, biru, merah, hitam, serta hijau. Pada gunungan dharat, masyarakat bisa mendapati kue besar berbentuk lempengan yang berwarna hitam. Di sekeliling kue itu ada kue-kue ketan berbentuk lidah yang disebut ilat-ilatan (ilat adalah lidah dalam bahasa Jawa). Kue-kue berbahan ketan seperti wajik dan rengginang menghiasi gunungan wadon. Gunungan wadon jika diamati bentuknya menyerupai sebuah bunga raksasa. Sedangkan gunungan dharat bahan pembuatnya kurang lebih serupa dengan gunungan wadon.
Gunungan sendiri dipercaya sebagai simbolisasi berkah bagi masyarakat, khususnya masyarakat Jogja. Masih banyak warga Jogja yang percaya bahwa bagian sesajen itu, walau hanya sedikit, bisa mendatangkan rizki bagi mereka. Sebelum diarak dan dibagikan, gunungan-gunungan tersebut dibacakan doa-doa yang dianggap menyucikan. Karenanya gunungan juga dipercaya bisa mengusir kekuatan jahat. Begitu kuatnya kepercayaan masyarakat terhadap kekuatan gunungan, tak jarang ditemui pengunjung yang hadir juga berasal dari wilayah luar Jogja.

Sumber Tokhe on the Net : trulyjogja
Selengkapnya...

Merti Desa, Sarat Makna dan Gugah Rasa Kebersamaan

Indonesia dulu terkenal dengan budaya guyub-nya. Satu rasa satu sama. Saat ini seiring dengan arus perubahan zaman yang disertai pergeseran tata nilai, struktur sosial masyarakat berubah dari masyarakat paguyuban menjadi patembayan. Masyarakat desa saat ini diidentikan dengan struktur paguyuban sedangkan masyarakat kota sama dengan patembayan.
Dengan adanya perubahan tata nilai, maka ada pula tradisi-tradisi yang berubah. Orang Jawa pada umumnya, termasuk orang Jogja setiap kali selesai melakukan panen raya selalu mengadakan upacara yang disebut Merti Desa. Merti Desa atau bersih desa merupakan sebuah wujud kearifan lokal yang sempat terombang-ambing di tengah arus perubahan nilai termasuk dengan derasnya nilai budaya asing yang masuk ke negeri kita. Kini semangat yang terkandung di dalam Merti Desa sepatutnya direvitalisasi dalam sebuah momen yang menggugah rasa kebersamaan masyarakat, khususnya di perkotaan, untuk sejenak melepaskan kesibukan kerja dan kembali menjalin komunikasi dengan tetangga atau masyarakat di lingkungan sekitar. Pemerintah Provinsi Yogyakarta saat ini kembali menggalakkan perayaan Merti Desa di kalangan masyarakat.
Merti Desa atau bersih desa pada hakikatnya merupakan sebuah kegiatan yang menjadi simbol rasa syukur masyarakat kepada Tuhan atas segala karunia yang diberikan-Nya. Karunia tersebut bisa berupa apa saja seperti rezeki, keselamatan atau juga kesalarasan dan ketentraman. Lebih dari itu, merti desa juga merupakan sebuah wadah di mana para penduduk bisa membina tali silaturahmi, saling menghormati, serta saling tepa selira. Seperti diketahui bersama bahwa ketiga hal tersebut sudah mulai jarang terkespresikan di dalam masyarakat. Padahal terlepas dari berbagai kemudahan teknologi yang bisa mempermudah tali silaturahmi misalnya, sebagai makhluk sosial sejatinya kita perlu berinterksi dan bertemu langsung dengan masyarakat lainnya.
Selain sebagai manifestasi rasa syukur kepada Yang Maha Esa, Merti Desa juga merupakan sebuah perwujudan keselarasan manusia dengan alam. Selama hidupnya manusia telah hidup berdampingan dengan alam dan mengambil banyak materi dari alam. Namun demikian, pemanfaatan itu tidak boleh terlepas dari tata cara sehingga bisa menimbulkan eksploitasi berlebihan terhadap alam. Padahal dalam hakikatnya manusia dan alam saling melengkapi. Jika dalam panen raya, masyarakat mendapatkan hasil yang banyak hal itu tentu saja tidak terlepas dari tata cara pengolahan alam yang baik.
Dalam upacara merti desa selalu ada gunungan yang dijadikan persembahan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Gunungan itu isinya bisa bermacam-macam. Namun pada umumnya gunungan dibuat hasil bumi lokal seperti buah pisang, ketela rambat atau pohon. Contohnya pada Merti Bumi yang dilaksanakan di daerah Turi Sleman, gunungan yang disajikan biasanya terbuat dari salak yang merupakan hasil bumi paling populer di sana.
Tata cara Merti Desa biasanya diawali dengan pengambilan air dari sendang atau sumber air setempat. Kemudian air tersebut dikirabkan dengan bersama dengan sesajen serta ubo rampe yang telah persiapkan. Jika daerah tersebut memiliki warisan pusaka, maka umumnya pusaka tersebut turut dikirabkan juga. Setelah selesai dikirabkan, gunungan dan ubo rampe akan diperebutkan oleh penduduk setempat. Sebagai rangakaian upacara Merti Desa, selalu ada acara kesenian tradisional seperti jathilan atau wayang kulit. Merti Desa dalam hal ini memang tempat yang sangat ideal untuk mempertemukan kembali masyarakat dari segala ritual atau kesibukan mereka sehari-hari.

Sumber Tokhe on the Net : http://www.trulyjogja.com
Selengkapnya...

Kirab Bekakak; Kekayaan Budaya dari Gamping

Yogyakarta memang menyimpan beragam khasanah kebudayaan, yang mungkin masih jarang diketahui oleh para penduduk luar Jogja. Pun penduduk Jogja masih banyak yang awam tentang keanekaragaman budaya yang ada karena sebagian dari mereka adalah para pendatang. Salah satu kekayaan budaya yang gaungnya masih kalah menggema dibandingkan grebeg mulud adalah upacara Saparan atau dikenal pula dengan Kirab Bekakak.
Kirab bekakak yang diadakan setiap tahun di Gamping, Sleman ini sejatinya masuk dalam kalender pariwisata pemerintah Kabupaten Sleman dan pemerintah Provinsi DIY. Namun entah karena lokasi pelaksanaannya yang jauh dari pusat kota, atau lantaran faktor yang lain, acara yang satu ini memang jauh kemeriahannya dibandingkan grebeg mulud atau sekatenan. Acara ini sendiri diadakan tiap hari Jum’at, minggu ke tiga bulan Sapar (nama bulan dalam penanggalan Islam). Kenyataannya, kirab bekakak ini tidak kalah menarik untuk dinikmati dan diikuti.
Dalam setiap penyelenggaraannya, rute Kirab diawali dari Balai Desa Ambarketawang, berjalan menuju Pesanggrahan Ambarketawang yang terletak di Gunung Gamping. Dalam Kirab tersebut diaraklah dua pasang boneka penganten, disebut pula bekakak, yang dibuat dari tepung beras ketan yang diisi juruh atau gula merah yang dicairkan. Selain arakan bekakak, Kirab juga diikuti oleh brigade prajurit serta rombongan berbagai macam kesenian tradisional. Sesampainya di Pesanggarahan, penganten atau bekakak tersebut disembelih hingga keluar juruh-nya dan kemudian disebarkan ke arah pengunjung.
Para pengunjung selalu dengan rela menunggu sambil berdesak-desakan untuk mendapatkan bagian dari bekakak tersebut. Mereka percaya, walaupun sedikit, tubuh bekakak yang terbuat dari ketan itu bisa mendatangkan berkah bagi mereka yang berhasil mendapatkannya. Tradisi seperti ini memang masih melekat pada sebagian masyarakat Jawa pada umumnya dan Jogja pada khususnya. Orang menyebutnya ngalap berkah.
Adapun cerita di balik penyelenggaraan kirab bekakak ini dipercaya berawal dari meninggalnya Ki Wirosuto bersama keluarganya akibat runtuhnya Gunung Gamping. Ki Wirosuto sendiri adalah abdi Raja Mataram Sultan Hamengkubuwono I. Upacara Saparan ini merupakan perintah dari Sultan kepada Demang Gamping untuk mengadakan selamatan dengan membuat sepasang boneka yang terbuat dari tepung beras ketan berisikan gula merah cair. Boneka tersebut harus disembelih sebagai simbolisasi pengorbanan Ki Wirosuto.
Adapula cerita lain yang menyebutkan bahwa tradisi ini ditujukan pula untuk keselamatan bagi penduduk setempat yang pada umumnya berprofesi sebagai pengambil kapur gamping. Konon dahulu banyak orang yang tergelincir dan meninggal saat mengambil batu gamping. Dan anehnya kecelakaan yang merenggut nyawa itu selalu terjadi pada bulan Sapar. Oleh karena itu dengan diadakannya tardisi Saparan, warga setempat percaya bahwa tradisi ini sanggup memberikan kedamaian serta ketentraman bagi mereka. Dengan menjaga dan melestarikan tradisi ini, segala kesialan dan mara bahaya dipercaya bisa menjauh dari masyarakat setempat.

tokhe on the net
Selengkapnya...

Labuhan Pantai Selatan

Ritual labuhan pantai selatan ini adalah ritual yang dianggap sangat penting bagi Kraton Jogja. Berbagai persembahan ditawarkan pada Kanjeng Ratu Kidul. Dilaksanakan di Parangkusumo, ritual ini bertujuan sebagai upacara permohonan untuk mendapatkan kesejahteraan dan keselamatan hidup.
Sejarahnya, Kanjeng Ratu Kidul mempunyai hubungan dengan Raja-Raja Mataram, dan ini memperkuat legitimasi Sultan-Sultan di Kraton Jogja. Kanjeng Ratu Kidul telah berjanji untuk selalu melindungi Panembahan Senopati, yang merupakan asal-usul Kerajaan Mataram, dan seluruh keturunannya apabila datang masa-masa sulit.
Menurut kepercayaan, Kanjeng Ratu Kidul memiliki seorang patih yang sangat setia dan dan sangat kuat, bernama Nyai Roro Kidul. Karenanya terdapat 2 persembahan, untuk Kanjeng Ratu Kidul yang bernama Pengajeng dan untuk Nyai Roro Kidul yang bernama Penderek.
Upacara dilaksanakan di pagi hari oleh para abdi dalem dan masyarakat. Dibuka oleh mantra dari juru kunci Parangkusumo, persembahan-persembahan yang berupa pakaian wanita, alat-alat rias, sirih, bunga, dan "ubo rampe" lainnya dihanyutkan ke laut selatan.
Dalam ritual ini, Sri Sultan, sebagai raja yang berkuasa, juga akan mengumpulkan pakaian bekas yang pernah dipergunakan, potongan rambut, serta potongan kuku beliau. Kesemuanya itu ditanamkan di dalam areal tanah sengker – suatu area tanah yang dianggap sakral dan keramat di daerah Parangkusumo.

Tokhe on the Net
Selengkapnya...

Kain Batik

Batik memiliki beragam motif. Tak hanya dari dalam negeri, batik ada yang berasal dari mancanegara, seperti Rusia.
Di Indonesia sendiri, motif batik juga bervariasi, diantaranya adalah batik Jogja dan batik Solo. Walau keduanya menggunakan ukel dan semen-semen, namun sebenarnya kedua batik ini berbeda. Perbedaannya terletak pada warnanya. Batik Jogja berwarna putih dengan corak hitam, sedangkan batik Solo berwarna kuning dengan corak tanpa putih.
Penggunaan kain batik ini pun berbeda-beda. Di Kraton Jogja, terdapat aturan yang pakem mengenai penggunaan kain batik ini. Untuk acara perkawinan, kain batik yang digunakan haruslah bermotif Sidomukti, Sidoluhur, Sidoasih, Taruntum, ataupun Grompol. Sedangkan untuk acara mitoni, kain batik yang boleh dikenakan adalah kain batik bermotif Picis Ceplok Garudo, Parang Mangkoro, atau Gringsing Mangkoro.
Saat ini batik telah menjadi tradisi baru di tengah masyarakat. Tak hanya sandang yang menggunakan kain batik sebagai bahannya. Sarung bantal, gordyn, dan seprei pun telah ada yang menggunakan kain batik. Ini adalah awal mula yang baik bagi pelestarian seni batik. Awalnya harus mencintai dahulu, kemudian muncul rasa andarbeni (memiliki) dan akhirnya nguri-uri (melestarikan).
Kesadaran ini sudah mulai dan terus digalakkan. Batik Tamanan Kraton pun dibentuk untuk khusus membatik motif Kraton Jogja.

Tokhe on the Net
Selengkapnya...

Batik Pasar Beringharjo

Kalau kota Solo terkenal dengan Pasar Klewer-nya, Jogja terkenal dengan Pasar Beringharjo. Pasar tradisional yang terletak di jalan Malioboro bagian selatan dan dekat dengan benteng Vredeburg ini merupakan salah satu ciri khas Jogja. Pasar ini sangat luas dan terdiri dari tiga lantai dengan masing-masing lantai dan tempat memiliki pos barang dagangan yang berbeda-beda. Kali ini Anda akan diajak untuk menjelajahinya dan mendapatkan berbagai barang yang Anda cari. Namun terlebih dulu siapkan diri untuk berdesakan dan menawar harga. Anda siap? Ayo...!!!!
Salah satu oleh-oleh yang banyak tersedia di Pasar Beringharjo adalah batik mengingat batik juga menjadi salah satu barang khas Jogja. Kalau dulu batik identik dengan hal-hal yang berbau tradisional sehingga lekat dengan adat Jawa dan orang tua, kini sudah menjadi salah satu tren untuk semua umur.

Koleksi batik di pasar ini cukup lengkap, baik untuk anak-anak, remaja, dan orangtua, semua tersedia dalam berbagai model, termasuk jika Anda ingin membeli batik yang seragam untuk keluarga. Berbagai macam batik dapat ditemukan di sini, dari kain batik, jarit (kain batik untuk bawahan berbusana jawa), baju batik untuk resepsi atau acara resmi, daster batik, seprei batik, sampai dengan asesoris rumah dari batik.
Kios-kios yang ada di pasar Beringharjo ini menjual berbagai batik yang dibuat oleh para pengusaha kelas kecil dan menengah sehingga tidak banyak merek terkenal atau merek tertentu, meskipun ada beberapa. Jadi pasar ini tepat buat mereka yang tidak fanatik terhadap satu merek batik tertentu.
Jajaran kios batik ini terletak di bagian depan sayap kiri pasar dan bagian dalam setelah memasuki pintu utama sampai dengan 75 meter ke belakang. Banyak sekali kios-kios yang menjual berbagai hal berbau batik, jadi Anda dapat berkunjung dari satu kios ke kios yang lain. Harganya pun sangat beragam, dari yang belasan ribu sampai puluhan ribu bisa ditemukan. Kunci untuk berbelanja di tempat ini adalah kepintaran untuk memilih barang dengan kualitas yang bagus dan kemampuan untuk menawar. Bukan tidak mungkin, barang yang didapatkan kualitasnya tidak terlalu bagus tetapi harganya cukup tinggi.
Terdapat dua pilihan Batik yang dijual di Pasar Beringharjo yaitu batik cetak dan batik tulis. Batik cetak adalah batik yang motifnya dicetak dengan mesin, sedangkan batik tulis motifnya dibuat asli perlahan-lahan dari tangan si pembuat dengan menggunakan bahan malam dan alat yang bernama canting. Untuk membedakannya, perhatikan bagian dalam dan luar kain batik yang akan dibeli. Jika bagian dalam dan luar tidak sama, yaitu bagian luar tercetak jauh lebih jelas, maka itu merupakan batik cetak, tetapi jika bagian dalam dan luar sama, itulah batik tulis. Karena rumitnya pembuatan, harga batik tulis relatif jauh lebih mahal.

Batik di Pasar Beringharjo dapat dibeli dalam jumlah yang besar karena selain wisatawan yang membeli oleh-oleh batik secukupnya, pasar ini merupakan pusat grosir penjual batik eceran di Jogja maupun luar Jogja. Sayangnya, pasar ini hanya buka sampai jam 5 sore.
Satu lagi yang perlu diingat, Pasar Beringharjo, seperti pasar-pasar lainnya adalah tempat umum yang rawan copet. Berhatilah-hatilah dengan barang berharga Anda, siapa tahu, ada copet yang sedang mengawasi. Siapkah Anda berbelanja batik?


Sumber tokhe : www.trulyjogja.com
Selengkapnya...

Lesehan Jogja

Cerita warung lesehan di Jogjakarta amat terkenal. Setiap wisatawan yang datang berkunjung ke Jogja, baik domestik maupun mancanegara, hampir selalu menyempatkan diri makan di warung-warung lesehan. Bahkan ada yang mengatakan, berlibur ke Jogja tidaklah afdol jika belum merasakan nikmatnya makan ala lesehan.
Warung lesehan yang melegenda di setiap telinga orang luar Jogja adalah lesehan yang terletak di kawasan Malioboro. Tak heran karena kawasan itu merupakan kawasan wisata yang amat populer sehingga kerap diasosiasikan dengan wisata Jogja. Padahal jika kita mengelilingi sudut-sudut kota Jogja, terutama di waktu malam, banyak warung lesehan yang dapat kita temui seperti di ruas Jalan Solo, Jalan Ahmad Dahlan, Jalan Magelang, Pojok Benteng Kulon dan beberapa ruas jalan lainnya.
Suasana akrab dan kesan hangat yang diciptakan oleh warung-warung lesehan menjadi data tarik bagi para pengunjung. Selain itu, gaya makan seperti itu bisa lebih mudah mencairkan suasana dan menimbulkan kebersamaan antara satu sama lain. Jika kita melihat ke masa lalu, tradisi makan bersama di lantai (tanpa kursi) sudah ada sejak zaman nenek moyang kita. Dengan kata lain itu merupakan kebiasaan yang diwariskan turun temurun.
Bukan karena orang dulu belum mengenal fungsi sebuah kursi sehingga mereka lebih memilih duduk di lantai. Hal itu lebih disebabkan adanya nilai-nilai persamaan atau egalitarian yang mereka pelihara. Duduk sama rendah berdiri sama tinggi. Dengan menggunakan kursi, suasana yang terbangun adalah “ini kursi tempatku duduk!” Bandingkan dengan cara duduk lesehan di mana orang jarang sekali mengklaim kepemilikan terhadap tempat duduk, namun yang timbul justru kesan “Mari kita duduk bersama-sama di sini!”
Kebersamaan atau guyub memang sifat yang melekat pada orang Indonesia pada umumnya dan Jogja pada khususnya. Namun kita juga tidak bisa mengabaikan fakta bahwa ada pergeseran nilai tersebut di masyarakat. Saat ini jarang sekali orang bisa menikmati makan sebagi sebuah ajang bersosialisasi, bercengkrama dan menguatkan persaudaraan. Makan bisa jadi cuma sekedar mengisi kebutuhan perut. Setelah perut kenyang, maka urusan pun selesai.
Di warung-warung lesehan Jogja kita masih bisa melihat tradisi guyub yang merupakan warisan nenek moyang. Jika berkesempatan untuk mengunjungi warung lesehan di Jogja, pastikan anda merasakan nuansa kebersamaan yang tercipta di sana. Suasananya sangat menyenangkan, tidak formal, dan seringkali dialog antara penjual dan pembeli mengalir begitu saja, tanpa rekayasa. Pun komunikasi antar pembeli juga dengan mudah terjalin. Topik-topik yang dibicarakan di warung-warung itu pun bermacam-macam. Dari obrolan ringan seperti gosip penyanyi dangdut sampai yang serius seperti kenaikan harga BBM bisa dibacarakan di sini. Satu dua pengamen akan meramaikan suasana malam dengan iringan gitar mereka. Itulah kebersamaan yang ditawarkan oleh Jogja.

Sumber Tokhe : www.trulyjogja.com
Selengkapnya...

Posting yang tertunda (2)

Semarak Pawai 'Hadeging Kutha Ngayogyakarta Hadiningrat'

Rangkaian perayaan 250 tahun kota Jogja telah dimulai sejak pembacaan Deklarasi Bangkit Jogja pada tanggal 16 Juli 2006. Berkaitan dengan program perayaan tersebut, panitia HUT kota Jogja yang ke-250 akan melaksanakan salah satu even terbesarnya, Kirab Hadeging Kutha Ngayogyakarta yang akan berlangsung pada hari Jumat, 15 September 2006.
Berlangsung sejak pukul 13.00 WIB, kirab ini akan melibatkan lebih dari 5000 orang. Seluruh elemen masyarakat kota Jogja diajak berkumpul untuk melaksanakan kirab sejauh 7 kilometer, dari Petilasan Ambarketawang hingga perempatan Kantor Pos Besar. Pemilihan pusat kegiatan yang berada di perempatan Kantor Pos Besar ini dikarenakan perempatan tersebut merupakan titik pusat kota Jogja (0 kilometer). Secara filosofis, titik 0 kilometer melambangkan bahwa seluruh masyarakat Jogja diharapkan bersama-sama membangun kembali kota Jogja mulai dari nol setelah diterpa bencana gempa pada 27 Mei 2006 lalu.
Rute yang dibagi menjadi tiga etape ini merupakan napak tilas rute yang dahulu dilewati Sri Sultan Hamengku Buwono I saat memindahkan Kraton Jogja dari Petilasan Ambarketawang menuju Alas Beringan (yang saat ini dikenal dengan Alun-alun Yogyakarta). Pembagian tiga etape ini dilakukan agar rombongan masyarakat yang akan mengikuti kirab tidak terpusat menjadi satu.
"Tahun ini (acara kirab-red) kita buat agak spektakuler. Tujuannya kan bagaimana Jogja bangkit, masyarakat bisa bareng-bareng membangun Jogja dan mengabarkan kalau Jogja sudah bisa dikunjungi lagi," ujar Darwin Puthu Artha selaku koordinator acara tersebut. Sedikit berbeda dengan tahun sebelumnya, acara kirab tahun ini memang dibuat lebih spektakuler dengan maksud dapat menimbulkan semangat kebersamaan dan bangkit.
Kespektakuleran acara ini dapat terlihat dari diundangnya 60 grup kesenian yang berasal dari 14 kecamatan di Jogja serta utusan dari Kabupaten Bantul dan Sleman. Selain itu juga mengundang kelompok kesenian profesional, seperti Kelompok kesenian dari Sapto Raharjo dan Didik Nini Thowok, untuk ikut berpartisipasi.
Tidak hanya itu, pada saat kirab juga ditampilkan 10 pusaka Kraton yang selama ini belum pernah dikeluarkan. "Seumur-umur baru sekali ini sepuluh pusaka Kraton kita keluarkan. Kan biasanya yang dikeluarkan replikanya," jelas Darwin. Kehadiran pusaka-pusaka ini juga diharapkan mampu menjadi tolak bala untuk menghalau kota Jogja dari bencana. Selain mengeluarkan 10 Pusaka Kraton, kirab ini juga melibatkan 4 pasukan Kraton, 2 pasukan Bregada Merti Code, 3 pasukan Senopati Ambarketawang, serta 2 pasukan Pakualaman.
Rombongan yang diperkirakan mencapai 5000 orang ini, akan berbaris sepanjang 3 kilometer dan baru diperkirakan mencapai titik nol tersebut pada pukul 18.00 WIB. Agenda lain yang tidak kalah spektakuler dari acara ini adalah kehadiran barongsai yang konon hanya dimunculkan pada acara-acara kenegaraan saja.

Sumber tokhe : http://www.trulyjogja.com di sini
Selengkapnya...

Posting yang tertunda (1)

Sudah lama Q pengen posting ini, but data ilang.... ya akhirnya copy paste dech.......

Semarak Pawai 'Hadeging Kutha Ngayogyakarta Hadiningrat'

Jumat siang (15/9/06), Jogja kembali menggelar acara puncak dalam rangkaian Hari Ulang Tahun Kota Jogja ke-250 tahun. Acara yang melibatkan ribuan masyarakat Jogja di segala lapisan ini disajikan dalam bentuk pawai yang sarat nuansa seni dan budaya.
Hari itu, beragam komunitas seni, sejumlah elemen mahasiswa dan masyarakat bersatu dan merayakan sebuah kebersamaan. Perjalanan panjang ditempuh guna menggambarkan asal mula kota Jogja. Acara yang terbagi dalam tiga estape ini menceritakan runtutan kejadian, bagaimana Jogja berdiri hingga terpusat di keraton Jogja saat ini.
Untuk estape pertama, berada di Rute Pesanggrahan Ambarketawang menuju Sekolah Guru Pendidikan Luar Biasa (SGPLB). Pawai menjadi meriah ketika gamelan raksasa Mpu Triwiguno, Bregada Prajurit Wirasuta Gamping Tengah, Songsong Wirasuta Mejing, Mbah Demang Banyuraden, serta beragam kesenian Kasihan, Bantul, dan Sleman beratraksi sembari berjalan.
Sedangkan estape kedua, dimulai dari SGPLB menuju Stasiun Ngabean. Lewat seni yang dipertunjukkan oleh Seni Wisnoe Wardhana, Sanggar Wasana Nugraha Sewon dan Natya Laksita Didik Ninik Thowok, PLT Bagong Kusuadiardja, dan SMKI Negeri Kasihan, Bantul atraksi pun dilakukan sembari mereka berjalan. Estape ketiga, berada Stasiun Ngabean hingga Alun-Alun Utara. Dengan terpusat di Perempatan Kantor Pos Besar, digelar pula atraksi dari Prajurit Keraton dengan Kereta Pusaka, prajurit Pakualaman, Paskibraka Kota, Ikatan Keluarga Mahasiswa pelajar Mahasiswa, Kesenian Reog Danurejan, dan Paksikaton.
Pawai seni dan budaya yang kental dengan pesan sejarah ini memang dilaksanakan sebagai refleksi masyarakat terhadap hari kelahiran kotanya. Dalam Pawai Hadeging Kutha Ngayogyakarta Hadiningrat ini, sebuah kearifan lokal yang diyakini oleh masyarakat kembali diingatkan. Filosofi "Hamemayu Hayuning Bawana" yang memuat ajaran "Tri Satya Brata" berarti sebuah harmoni hubungan antara insan dengan Sang Khalik, antar manusia dengan alam, pun dengan antarmanusia sendiri.
Dengan kirab ini, diharapkan Jogja mampu membangun kota dengan semangat folosofis yang diaktualkan dalam kehidupan sehari-hari. Aktualisasi tersebut berupa semangat yang dimiliki menuju kehidupan yang lebih baik. "Partisipasi dalam acara pawai ini menjadi sebuah momentum besar atas sebuah kebersamaan dan persaudaraan di antara masyarakat," tutur KRMT. Indro 'Kimpling' Suseno, Ketua Panitia HUT Kota Jogja ke-250 tahun.
Saking meriahnya, Perempatan Kantor Pos Besar yang menjadi titik pusat acara ini tumpah ruah dengan masyarakat. Mereka ingin menyaksikan atraksi dengan beragam seni bahkan berdesak-desakan sembari menonton. Menjelang malam, sebuah drama tari bertajuk 'Hadeging Kutha Ngayogyakarta' digelar sebagai puncak rangkaian Pawai Hadeging Kutha Ngayogyakarta.
Drama tari itu bercerita tentang sejarah berdirinya Kota Jogja. Dengan durasi singkat 20 menit, drama tari ini mampu membuat masyarakat, baik tua, muda, dan anak-anak mengingat tentang sejarah kota yang mereka diami, Jogja. Pada tempat yang sama, tepatnya belakang penonton yang membentuk lingkaran di kantor Pos besar, depan Bank BNI, ditampilkan pula iring-iringan komunitas yang siap tampil.
Di tengah hiruk pikuk suasana yang membuat masyarakat merasa puas, even ini juga mampu menarik minat wisatawan untuk berkunjung. Seorang turis dari Australia, Chaterine Dei misalnya, menyatakan tertarik dengan tampilan rangkaian acara ini. Baginya, ini adalah pesta masyarakat dengan memberikan pengalaman sejarah yang ditampilkan secara apik dan menarik.

Sumber tokhe : http://www.trulyjogja.com/ di sini
Selengkapnya...

Your Ad Here

Mesin Pencari Pekerjaan