===============================================================
Tampilkan postingan dengan label Sleman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sleman. Tampilkan semua postingan

Pelangi Budaya Bumi Merapi 2010

Untuk kesekian kali, Bregodo Bremoro Geni Dowangan mengikuti kirab budaya yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman. Kirab kali ini berbeda dengan kirab-kirab sebelumnya, kirab kali ini menggabungkan antara budaya tradisional dengan modern. Bregodo atau prajurit tampil bersama kontingen kejuaraan nasional Drum Band se-Indonesia.
Pelangi Budaya Bumi Merapi diikuti sekitar 800 orang bregodo prajurit lengkap dengan pakaian tradisionalyang terdiri dari 15 bregodo prajurit dan kelompok kesenian yaitu Paguyuban Rias Sekar Sedah, Bregodo Bremara Geni, Tambakbaya, Kalijaga, Purbaya, Songsong Wirasuta, Bathok Bolu, Ngrowhod, Bregada Prajurit Ganggeng Samodra, Tunggulwulung, kelompok kesenian Dadhungawuk, Kuntulan, Badui, Kubrasiswa dan Dayakan.
Sedangkan para kontingen kejuaraan nasional drum band yang ikut andil di antaranya berasal dari Lhokseumawe NAD, Sumatera Selatan, Jambi, Bandar Lampung, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan DIY.
Kirab yang dimulai dari Lapangan Denggung – Jl. Magelang – Jl. Parasamya – Lapangan Pemda Sleman ini diawali dengan pembukaan Kejurnas Drumband dan dilanjutkan dengan pentas tari kolosal "Topeng Poleng" yang diikuti 70 penari dari empat SMA di Kabupaten Sleman.
Tari kolosal Topeng Poleng ini merupakan tari kreasi baru yang merupakan perpaduan berbagai tari tradisional yang menggambarkan para prajurit yang dipimpin Sri Sultan Hamengku Buwono I berperang melawan penguasa makhluk halus di daerah Gunung Gamping.

Selengkapnya...

Tampil Beda, HUT Sleman ke 94

Berbagai kesenian tampil pada puncak peringatan hari ulang tahun ke-94 Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Upacara HUT ke-94 Kabupaten Sleman ini diikuti sekitar 3.000 bregada dari 17 kecamatan, dan seluruh Perangkat Daerah dengan inspektur upacara adalah Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X.
Dalam rangkaian perayaan memperingati HUT ke-94 Kabupaten Sleman diadakan kirab pusaka dan pawai bregada dengan finish di Lapangan Denggung, setelah sebelumnya pada pukul 14.30 WIB dilakukan pengambilan pusaka Kyai Turun Sih serta panji lambang daerah di Pendopo Parasamya yang diikuti oleh pembawa pusaka, paguyuban Sekar Sedah, prajurit Bremoro Geni Dowangan dan Bregodo Ganggeng Samudra.
Selain itu juga ditampilkan fragmen 'Mutiara Sembada' yang disajikan oleh gabungan dari Sanggar Tari Kembang Kusuma, Paguyuban Dayakan Simo Merapi, Siswo Kawedar, SMA Negeri 1 Seyegan, SMA Negeri 1 Sleman, dan SMA Negeri 2 Ngaglik.

Selengkapnya...

Pelangi Budaya Bumi Merapi 2009 penuh Batik

Bregodo Bremoro Geni dari Dowangan Banyuraden mengikuti Kirab Pelangi Budaya Bumi Merapi, Rabu (2/12) yang diselenggarakan oleh Dinpar. Kab. Sleman di Jalan Magelang, Sleman. Kirab tahun yang menempuh jarak sekitar tiga kilometer dari Lapangan Mlati hingga Lapangan Denggung. Kirab kali ini diikuti lebih dari 4000 peserta dari berbagai kalangan kelompok seni.

Kelompok budaya meliputi bregada prajurit tradisional, kesenian tradisional yaitu kuntulan, badui, emprak, topeng poleng, wayang orang, putri sigrak, dan paguyuban budaya, komunitas mahasiswa dan perguruan tinggi. Kelompok pariwisata dan batik meliputi perhotelan, travel agent, para pengusaha batik, desa-desa wisata, dsb.

Sedangkan acara pendukung event Pelangi Budaya Bumi Merapi yang ditampilkan berupa pentas seni budaya yang meliputi jathilan, kobrasiswa, macapat, dolanan anak, dadhung awuk, barongsai dan karawitan anak.

Karnaval Pelangi Budaya Bumi Merapi ini merupakan kegiatan budaya yang merupakan wujud nyata dari keanekaragaman potensi budaya dan seni di Kabupaten Sleman yang dieksplorasikan melalui kreativitas dan inovasi para peserta karnaval.

Peserta kirab terdiri dari pejalan kaki dan kendaraan hias. Semua peserta mengenakan pakaian batik juga ornament batik pada setiap kendaraan. Hal ini sengaja dilakukan dalam rangka memperingati pengukuhan batik sebagai warisan khas leluhur Indonesia dari UNESCO.

Event ini diharapkan menjadi sarana aktualisasi sekaligus sebagai media internalisasi potensi seni dan budaya di kalangan para pelaku seni dan budaya. Tak hanya itu, kegiatan ini juga diharapkan mampu menjadikan wahana apresiasi positif bagi masyarakat umum dan wisatawan.


Foto Tokhe on the Net : ANTARA/Wahyu Putro A/ss/pd/09

Selengkapnya...

Merti Desa, Sarat Makna dan Gugah Rasa Kebersamaan

Indonesia dulu terkenal dengan budaya guyub-nya. Satu rasa satu sama. Saat ini seiring dengan arus perubahan zaman yang disertai pergeseran tata nilai, struktur sosial masyarakat berubah dari masyarakat paguyuban menjadi patembayan. Masyarakat desa saat ini diidentikan dengan struktur paguyuban sedangkan masyarakat kota sama dengan patembayan.
Dengan adanya perubahan tata nilai, maka ada pula tradisi-tradisi yang berubah. Orang Jawa pada umumnya, termasuk orang Jogja setiap kali selesai melakukan panen raya selalu mengadakan upacara yang disebut Merti Desa. Merti Desa atau bersih desa merupakan sebuah wujud kearifan lokal yang sempat terombang-ambing di tengah arus perubahan nilai termasuk dengan derasnya nilai budaya asing yang masuk ke negeri kita. Kini semangat yang terkandung di dalam Merti Desa sepatutnya direvitalisasi dalam sebuah momen yang menggugah rasa kebersamaan masyarakat, khususnya di perkotaan, untuk sejenak melepaskan kesibukan kerja dan kembali menjalin komunikasi dengan tetangga atau masyarakat di lingkungan sekitar. Pemerintah Provinsi Yogyakarta saat ini kembali menggalakkan perayaan Merti Desa di kalangan masyarakat.
Merti Desa atau bersih desa pada hakikatnya merupakan sebuah kegiatan yang menjadi simbol rasa syukur masyarakat kepada Tuhan atas segala karunia yang diberikan-Nya. Karunia tersebut bisa berupa apa saja seperti rezeki, keselamatan atau juga kesalarasan dan ketentraman. Lebih dari itu, merti desa juga merupakan sebuah wadah di mana para penduduk bisa membina tali silaturahmi, saling menghormati, serta saling tepa selira. Seperti diketahui bersama bahwa ketiga hal tersebut sudah mulai jarang terkespresikan di dalam masyarakat. Padahal terlepas dari berbagai kemudahan teknologi yang bisa mempermudah tali silaturahmi misalnya, sebagai makhluk sosial sejatinya kita perlu berinterksi dan bertemu langsung dengan masyarakat lainnya.
Selain sebagai manifestasi rasa syukur kepada Yang Maha Esa, Merti Desa juga merupakan sebuah perwujudan keselarasan manusia dengan alam. Selama hidupnya manusia telah hidup berdampingan dengan alam dan mengambil banyak materi dari alam. Namun demikian, pemanfaatan itu tidak boleh terlepas dari tata cara sehingga bisa menimbulkan eksploitasi berlebihan terhadap alam. Padahal dalam hakikatnya manusia dan alam saling melengkapi. Jika dalam panen raya, masyarakat mendapatkan hasil yang banyak hal itu tentu saja tidak terlepas dari tata cara pengolahan alam yang baik.
Dalam upacara merti desa selalu ada gunungan yang dijadikan persembahan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Gunungan itu isinya bisa bermacam-macam. Namun pada umumnya gunungan dibuat hasil bumi lokal seperti buah pisang, ketela rambat atau pohon. Contohnya pada Merti Bumi yang dilaksanakan di daerah Turi Sleman, gunungan yang disajikan biasanya terbuat dari salak yang merupakan hasil bumi paling populer di sana.
Tata cara Merti Desa biasanya diawali dengan pengambilan air dari sendang atau sumber air setempat. Kemudian air tersebut dikirabkan dengan bersama dengan sesajen serta ubo rampe yang telah persiapkan. Jika daerah tersebut memiliki warisan pusaka, maka umumnya pusaka tersebut turut dikirabkan juga. Setelah selesai dikirabkan, gunungan dan ubo rampe akan diperebutkan oleh penduduk setempat. Sebagai rangakaian upacara Merti Desa, selalu ada acara kesenian tradisional seperti jathilan atau wayang kulit. Merti Desa dalam hal ini memang tempat yang sangat ideal untuk mempertemukan kembali masyarakat dari segala ritual atau kesibukan mereka sehari-hari.

Sumber Tokhe on the Net : http://www.trulyjogja.com
Selengkapnya...

Meriah Puncak Acara Hari Jadi Kabupaten Sleman ke-93

Puncak acara Hari Jadi ke-93 Kabupaten Sleman yang jatuh pada tanggal 15 Mei 2009 dilaksanakan dengan upacara di Lapangan Denggung pada pukul 15.00 WIB. Para peserta upacara berpakaian adat Jawa lengkap dan dilaksanakan dengan Bahasa Jawa. Peserta upacara merupakan karyawan dinas dan instansi di lingkungan Pemkab Sleman serta bregodo-bregodo prajurit, seni budaya dan paguyuban yang ada di Kabupaten Sleman.
Di daerah persiapan I atau DP I (Pendopo Parasamya) diikuti oleh Bregodo Prajurit Tambak Yuda, Bregodo Prajurit Bremoro Geni Dowangan, Pembawa Pusaka tombak Kyai Turunsih dan Rontek serta Bregodo Sekar Sedah. Di DP II diikuti oleh Bregodo Kesenian Badui, Sekretariat Dewan, Karyawan Dinas, Kantor, Badan serta 17 Kecamatan. Di DP III (Lapangan Mlati) diikuti oleh Bregodo Rampak Buta sebagai Cucuk Lampah, Bregodo Prajurit Delingsari, Tlatar, Tuk Si Bedug, Onggojoyo, Code, Ngetal, Ngrowodh, Mejing BSW, Bathok Bolu, Gamping Kidul, Kalirase, Bregas, Tunggul Wulung, Demang/Cokrowijayan, Purbaya Wotgaleh.
Upacara peringatan Hari Jadi di Lapangan Denggung dimulai dengan Tarian Pesona Lereng Merapi yang merupakan perpaduan unsur ragam gerak kesenian religius di Kabupaten Sleman yaitu badui, kubro, kuntulan, reog, jathilan dan sholawatan sebagai iringannya. Tarian ini dibawakan oleh siswa-siswi SLTA se Kabupaten Sleman (SMA 1 Kalasan, SMA 1 Ngaglik, SMA 1 Sleman, SMA 1 Seyegan dan SMA 2 Ngaglik) sejumlah ± 100 orang siswa. Gelar Tari Pesona Lereng Merapi ini menggambarkan kedinamisan masyarakat Sleman dalam membangun bumi Sembada Lereng Merapi dengan dilandasi rasa memiliki dan kecintaan terhadap kearifan seni budaya lokal.

Tokhe on the Net

Selengkapnya...

Dinas Budpar Sleman Promosikan Sadar Wisata dan Sapta Pesona

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman melakukan promosi dan penyuluhan sadar wisata dan sapta pesona bagi warga masyarakat Rumah Domes, Sengir Sumberharjo Prambanan dan sekitarnya selama dua hari Sabtu 28 Maret dan Senin 30 Maret 2009.
Sebagai pembicara dalam acara tersebut Drs. Edi Purnomo dari ASITA DIY dengan materi Sadar Wisata dan Sapta Pesona dengan topik khusus “Mempersiapkan Domes sebagai Obyek Wisata”, dosen Fakultas Teknik Arsitektur UGM Dyah Titisari, ST, MUDD dengan materi Menata Lingkungan dan Rumah dengan Asri serta teori sekaligus praktek tentang Pengolahan Limbah dan Pembuatan Pupuk Organik oleh praktisi desa wisata Sukunan Iswanto, S.Pd, M.Kes.
Sebagaimana diungkapkan panitia penyelenggara Budiharjo, A.Md, promosi dan penyuluhan sadar wisata dan sapta pesona yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang konsep Sadar Wisata dan Sapta Pesona sebagai unsur penting dalam pengembangan kepariwisataan yang akan bermuara pada peningkatan kesejahteraan rakyat. Disamping itu juga untuk mendorong peran aktif masyarakat dalam mendukung upaya terwujudnya Sadar Wisata dan Sapta Pesona.
Secara khusus, pembinaan kelompok sadar wisata ini diharapkan akan dapat memberikan tambahan pengetahuan dan ketrampilan tehnis kepada masyarakat di sekitar obyek wisata terkait dengan upaya-upaya untuk memberikan pelayanan yang baik kepada wisatawan, baik wisatawan domestik maupun manca negara. Dalam acara tersebut dihadirkan 50 warga masyarakat setempat yang terdiri atas para tokoh masyarakat dan masyarakat di sekitar Domes.
Sementara itu Kapala Seksi Pemasaran Wisata Dra. Shavitri Nurmala Dewi, MA mengungkapkan bahwa Domes sudah menjadi obyek wisata yang banyak diminati oleh wisatawan baik dalam negeri maupun manca negara. Karena disamping keunikannya yang tiada duanya di Indonesia yang dikenal juga dengan Rumah Teletubies, Domes merupakan tonggak bersejarah pasca bencana gempa bumi tahun 2006 silam. Sehubungan dengan hal tersebut ia mengajak kepada masyarakat setempat dan sekitarnya untuk menyiapkan diri sebagai tuan rumah yang baik, mengingat kedepan tentu akan semakin banyak wisatawan yang datang. Sikap dan perilaku masyarakat setempat terhadap wisatawan yang datang akan sangat berpengaruh terhadap pengembangan obyek wisata itu sendiri dimasa mendatang.
Disamping itu pula, pihak pemerintah daerah tentu akan melakukan promosi seoptimal mungkin melalui berbagai sarana, baik melalui pameran, travel dialog maupun melalui website Dinas Kebudayaan dan Pariwisata.

Sumber Tokhe on the Net :
http://www.tourismsleman.com

Selengkapnya...

Kirab Bekakak; Kekayaan Budaya dari Gamping

Yogyakarta memang menyimpan beragam khasanah kebudayaan, yang mungkin masih jarang diketahui oleh para penduduk luar Jogja. Pun penduduk Jogja masih banyak yang awam tentang keanekaragaman budaya yang ada karena sebagian dari mereka adalah para pendatang. Salah satu kekayaan budaya yang gaungnya masih kalah menggema dibandingkan grebeg mulud adalah upacara Saparan atau dikenal pula dengan Kirab Bekakak.
Kirab bekakak yang diadakan setiap tahun di Gamping, Sleman ini sejatinya masuk dalam kalender pariwisata pemerintah Kabupaten Sleman dan pemerintah Provinsi DIY. Namun entah karena lokasi pelaksanaannya yang jauh dari pusat kota, atau lantaran faktor yang lain, acara yang satu ini memang jauh kemeriahannya dibandingkan grebeg mulud atau sekatenan. Acara ini sendiri diadakan tiap hari Jum’at, minggu ke tiga bulan Sapar (nama bulan dalam penanggalan Islam). Kenyataannya, kirab bekakak ini tidak kalah menarik untuk dinikmati dan diikuti.
Dalam setiap penyelenggaraannya, rute Kirab diawali dari Balai Desa Ambarketawang, berjalan menuju Pesanggrahan Ambarketawang yang terletak di Gunung Gamping. Dalam Kirab tersebut diaraklah dua pasang boneka penganten, disebut pula bekakak, yang dibuat dari tepung beras ketan yang diisi juruh atau gula merah yang dicairkan. Selain arakan bekakak, Kirab juga diikuti oleh brigade prajurit serta rombongan berbagai macam kesenian tradisional. Sesampainya di Pesanggarahan, penganten atau bekakak tersebut disembelih hingga keluar juruh-nya dan kemudian disebarkan ke arah pengunjung.
Para pengunjung selalu dengan rela menunggu sambil berdesak-desakan untuk mendapatkan bagian dari bekakak tersebut. Mereka percaya, walaupun sedikit, tubuh bekakak yang terbuat dari ketan itu bisa mendatangkan berkah bagi mereka yang berhasil mendapatkannya. Tradisi seperti ini memang masih melekat pada sebagian masyarakat Jawa pada umumnya dan Jogja pada khususnya. Orang menyebutnya ngalap berkah.
Adapun cerita di balik penyelenggaraan kirab bekakak ini dipercaya berawal dari meninggalnya Ki Wirosuto bersama keluarganya akibat runtuhnya Gunung Gamping. Ki Wirosuto sendiri adalah abdi Raja Mataram Sultan Hamengkubuwono I. Upacara Saparan ini merupakan perintah dari Sultan kepada Demang Gamping untuk mengadakan selamatan dengan membuat sepasang boneka yang terbuat dari tepung beras ketan berisikan gula merah cair. Boneka tersebut harus disembelih sebagai simbolisasi pengorbanan Ki Wirosuto.
Adapula cerita lain yang menyebutkan bahwa tradisi ini ditujukan pula untuk keselamatan bagi penduduk setempat yang pada umumnya berprofesi sebagai pengambil kapur gamping. Konon dahulu banyak orang yang tergelincir dan meninggal saat mengambil batu gamping. Dan anehnya kecelakaan yang merenggut nyawa itu selalu terjadi pada bulan Sapar. Oleh karena itu dengan diadakannya tardisi Saparan, warga setempat percaya bahwa tradisi ini sanggup memberikan kedamaian serta ketentraman bagi mereka. Dengan menjaga dan melestarikan tradisi ini, segala kesialan dan mara bahaya dipercaya bisa menjauh dari masyarakat setempat.

tokhe on the net
Selengkapnya...

Bekakak, Mengenang Leluhur Masyarakat Gamping

Upacara Bekakak adalah ritual khusus masyarakat Gamping yang dilakukan setahun sekali. Upacara ini sering disebut dengan Saparan karena waktu pelaksanaannya jatuh tiap Bulan Safar, bulan Arab kedua, antara tanggal 10-20.
Ritual Bekakak dilakukan untuk mengenang dan menghormati arwah Kiai dan Nyai Wirosuto sekeluarga, sebagai abdi dalem perangsang (hamba yang memayungi) Sri Sultan Hamengku Buwono I, yang diyakini sebagai cikal bakal penduduk Gamping, Kabupaten Sleman, Yogyakarta.
Dahulu, ketika Sri Sultan Hamengku Buwono I pindah dari Keraton Ambarketawang, kedua suami istri tersebut tidak ikut. Bersama keluarganya ia tetap bertempat tinggal di Gamping. Sejak saat itulah dia dianggap sebagai cikal bakal atau leluhur masyarakat Gamping.
Bekakak sendiri berarti kurban penyembelihan hewan atau manusia. Namun, berbeda dengan Idul Adha yang menjadikan domba sebagai hewan kurban, dalam Bekakak, yang menjadi kurban adalah sepasang pengantin tiruan yang dibuat dari beras ketan dan dihias sedemikian rupa. Pengantin perempuan dirias bergaya pengantin Solo, dan laki-laki bergaya Yogyakarta.
Terdapat beberapa tahapan dalam prosesi acara Bekakak. Pertama adalah tahap midodareni, yaitu tahap tirakatan yang dilaksanakan malam hari untuk meminta restu kepada bidadari yang diyakini akan turun. Meski pengantin Bekakak hanyalah tiruan, tapi tetap dilakukan seperti layaknya pengantin sungguhan.
Tahapan itu berlangsung pada malam Jumat, dimulai sekitar pukul 20.00 WIB. Dua buah jali berisi pengantin Bekakak dan sebuah jodhang (bejana) berisi sesaji disertai sepasang suami istri gendruwo dan wewe adalah benda-benda yang diarak untuk kemudian diberangkatkan ke Balai Desa Ambarketawang, lokasi tempat Bekakak Gamping dilakukan. Kemudian dilakukan aneka kegiatan, seperti tirakatan, tahlilan, atau pentas seni seperti wayang kulit dan uyon-uyon.

Pada keesokan harinya dilanjutkan kirab pengantin Bekakak. Tahapan kedua ini berupa arak-arakan pengantin menuju suatu tempat penyembelihan di Gunung Kliling. Sebagian besar penduduk Gamping ikut mengarak dengan membawa sesaji sambil memakai busana adat.
Prosesi selanjutnya adalah penyembelihan pengantin Bekakak. Dua pengantin yang terbuat dari beras ketan yang diarak tadi disembelih, atau lebih tepatnya dipotong-potong, dan kemudian dibagi-bagikan kepada para pengunjung.

Bersama itu pula dibagikan sesajian dan makanan. Acara dilakukan dua kali, yang pertama di Gua Gung Ambarketawang dan yang kedua di Gunung Kliling, yang berjarak sekitar 2 km.
Yang memimpin upacara itu adalah sesepuh desa setempat, dengan diawali doa bersama memohon keselamatan bagi arwah leluhur, dan bagi masyarakat Gamping sendiri.

Upacara terakhir dari seluruh rangkaian acara Bekakak adalah Sugengan Ageng. Acara itu dilaksanakan di Pesangrahan Ambarketawang, Gamping, oleh seorang ulama sebagai pemimpinnya.
Prosesinya pertama-tama pembakaran kemenyan, dilanjutkan pembukaan dengan mengikrarkan adanya Sugengan Ageng tersebut, lalu pembacaan doa dalam bahasa Arab. Setelah usai, dilepaskanlah sepasang burung merpati putih dan dilanjutkan pembagian sesaji Sugengan Ageng yang berada dalam rahmat Allah kepada semua yang hadir, terutama makanan tawonan kegemaran Sultan Hamengku Buwono I.
Dengan selesainya pembagian sesaji tersebut, selesailah rangkaian acara Bekakak. Secara seremonial, acara Bekakak tergolong rumit dan penuh tahapan serta penuh dengan simbol, seperti aneka ragam makanan sampai pakaian. Secara esensi Bekakak merupakan hajat penyucian jiwa, memohon keselamatan, juga sebentuk upaya untuk mengenang roh leluhur yang telah berjasa bagi masyarakat Gamping.

tokhe on the net
Selengkapnya...

Bremoro Geni Absen di Upacara Adat Saparan Bekakak

Upacara Adat Saparan Bekakak Jumat (13/02) kemarin sangat meriah, disamping gunungan dan boneka Bekakak juga patung replika gendruwo, banyak peserta pendukung yang ikut andil meramaikan upacara adat tersebut termasuk puluhan bregada prajurit tradisional. Para pengunjung yang antusias datang untuk menyaksikan upacara adat tersebut, upacara ini merupakan upacara tradisi budaya yang diadakan setiap satu tahun sekali di bulan Jawa Sapar di Ambarketawang Gamping Sleman.
Namun, sayang sekali, salah satu pendukung upacara adat ini tidak dapat mengikuti upacara tradisional ini yaitu Bregada Bremoro Geni dari dusun Dowangan. Padahal persiapan maupun kelengkapan dari Bregada Bremoro Geni sudah matang baik mental maupun fisik. Berdasarkan pengamatan di lapangan waktu upacara adat yang dimulai dengan arak-arakan kirab bregada, memang Bregada Bremoro Geni memang tidak kelihatan. Dan banyak penonton yang menanyakan kenapa kok tidak tampak, karena Bregada Bremoro Geni adalah pasukan yang lain dari yang lain, baik dari perlengkapan persenjataan yaitu berupa busur panah maupun perform-nya. Disamping itu juga anggotanya sendiri masih tergolong muda muda.

tokhe onthe net
Selengkapnya...

Posting yang tertunda (2)

Semarak Pawai 'Hadeging Kutha Ngayogyakarta Hadiningrat'

Rangkaian perayaan 250 tahun kota Jogja telah dimulai sejak pembacaan Deklarasi Bangkit Jogja pada tanggal 16 Juli 2006. Berkaitan dengan program perayaan tersebut, panitia HUT kota Jogja yang ke-250 akan melaksanakan salah satu even terbesarnya, Kirab Hadeging Kutha Ngayogyakarta yang akan berlangsung pada hari Jumat, 15 September 2006.
Berlangsung sejak pukul 13.00 WIB, kirab ini akan melibatkan lebih dari 5000 orang. Seluruh elemen masyarakat kota Jogja diajak berkumpul untuk melaksanakan kirab sejauh 7 kilometer, dari Petilasan Ambarketawang hingga perempatan Kantor Pos Besar. Pemilihan pusat kegiatan yang berada di perempatan Kantor Pos Besar ini dikarenakan perempatan tersebut merupakan titik pusat kota Jogja (0 kilometer). Secara filosofis, titik 0 kilometer melambangkan bahwa seluruh masyarakat Jogja diharapkan bersama-sama membangun kembali kota Jogja mulai dari nol setelah diterpa bencana gempa pada 27 Mei 2006 lalu.
Rute yang dibagi menjadi tiga etape ini merupakan napak tilas rute yang dahulu dilewati Sri Sultan Hamengku Buwono I saat memindahkan Kraton Jogja dari Petilasan Ambarketawang menuju Alas Beringan (yang saat ini dikenal dengan Alun-alun Yogyakarta). Pembagian tiga etape ini dilakukan agar rombongan masyarakat yang akan mengikuti kirab tidak terpusat menjadi satu.
"Tahun ini (acara kirab-red) kita buat agak spektakuler. Tujuannya kan bagaimana Jogja bangkit, masyarakat bisa bareng-bareng membangun Jogja dan mengabarkan kalau Jogja sudah bisa dikunjungi lagi," ujar Darwin Puthu Artha selaku koordinator acara tersebut. Sedikit berbeda dengan tahun sebelumnya, acara kirab tahun ini memang dibuat lebih spektakuler dengan maksud dapat menimbulkan semangat kebersamaan dan bangkit.
Kespektakuleran acara ini dapat terlihat dari diundangnya 60 grup kesenian yang berasal dari 14 kecamatan di Jogja serta utusan dari Kabupaten Bantul dan Sleman. Selain itu juga mengundang kelompok kesenian profesional, seperti Kelompok kesenian dari Sapto Raharjo dan Didik Nini Thowok, untuk ikut berpartisipasi.
Tidak hanya itu, pada saat kirab juga ditampilkan 10 pusaka Kraton yang selama ini belum pernah dikeluarkan. "Seumur-umur baru sekali ini sepuluh pusaka Kraton kita keluarkan. Kan biasanya yang dikeluarkan replikanya," jelas Darwin. Kehadiran pusaka-pusaka ini juga diharapkan mampu menjadi tolak bala untuk menghalau kota Jogja dari bencana. Selain mengeluarkan 10 Pusaka Kraton, kirab ini juga melibatkan 4 pasukan Kraton, 2 pasukan Bregada Merti Code, 3 pasukan Senopati Ambarketawang, serta 2 pasukan Pakualaman.
Rombongan yang diperkirakan mencapai 5000 orang ini, akan berbaris sepanjang 3 kilometer dan baru diperkirakan mencapai titik nol tersebut pada pukul 18.00 WIB. Agenda lain yang tidak kalah spektakuler dari acara ini adalah kehadiran barongsai yang konon hanya dimunculkan pada acara-acara kenegaraan saja.

Sumber tokhe : http://www.trulyjogja.com di sini
Selengkapnya...

Posting yang tertunda (1)

Sudah lama Q pengen posting ini, but data ilang.... ya akhirnya copy paste dech.......

Semarak Pawai 'Hadeging Kutha Ngayogyakarta Hadiningrat'

Jumat siang (15/9/06), Jogja kembali menggelar acara puncak dalam rangkaian Hari Ulang Tahun Kota Jogja ke-250 tahun. Acara yang melibatkan ribuan masyarakat Jogja di segala lapisan ini disajikan dalam bentuk pawai yang sarat nuansa seni dan budaya.
Hari itu, beragam komunitas seni, sejumlah elemen mahasiswa dan masyarakat bersatu dan merayakan sebuah kebersamaan. Perjalanan panjang ditempuh guna menggambarkan asal mula kota Jogja. Acara yang terbagi dalam tiga estape ini menceritakan runtutan kejadian, bagaimana Jogja berdiri hingga terpusat di keraton Jogja saat ini.
Untuk estape pertama, berada di Rute Pesanggrahan Ambarketawang menuju Sekolah Guru Pendidikan Luar Biasa (SGPLB). Pawai menjadi meriah ketika gamelan raksasa Mpu Triwiguno, Bregada Prajurit Wirasuta Gamping Tengah, Songsong Wirasuta Mejing, Mbah Demang Banyuraden, serta beragam kesenian Kasihan, Bantul, dan Sleman beratraksi sembari berjalan.
Sedangkan estape kedua, dimulai dari SGPLB menuju Stasiun Ngabean. Lewat seni yang dipertunjukkan oleh Seni Wisnoe Wardhana, Sanggar Wasana Nugraha Sewon dan Natya Laksita Didik Ninik Thowok, PLT Bagong Kusuadiardja, dan SMKI Negeri Kasihan, Bantul atraksi pun dilakukan sembari mereka berjalan. Estape ketiga, berada Stasiun Ngabean hingga Alun-Alun Utara. Dengan terpusat di Perempatan Kantor Pos Besar, digelar pula atraksi dari Prajurit Keraton dengan Kereta Pusaka, prajurit Pakualaman, Paskibraka Kota, Ikatan Keluarga Mahasiswa pelajar Mahasiswa, Kesenian Reog Danurejan, dan Paksikaton.
Pawai seni dan budaya yang kental dengan pesan sejarah ini memang dilaksanakan sebagai refleksi masyarakat terhadap hari kelahiran kotanya. Dalam Pawai Hadeging Kutha Ngayogyakarta Hadiningrat ini, sebuah kearifan lokal yang diyakini oleh masyarakat kembali diingatkan. Filosofi "Hamemayu Hayuning Bawana" yang memuat ajaran "Tri Satya Brata" berarti sebuah harmoni hubungan antara insan dengan Sang Khalik, antar manusia dengan alam, pun dengan antarmanusia sendiri.
Dengan kirab ini, diharapkan Jogja mampu membangun kota dengan semangat folosofis yang diaktualkan dalam kehidupan sehari-hari. Aktualisasi tersebut berupa semangat yang dimiliki menuju kehidupan yang lebih baik. "Partisipasi dalam acara pawai ini menjadi sebuah momentum besar atas sebuah kebersamaan dan persaudaraan di antara masyarakat," tutur KRMT. Indro 'Kimpling' Suseno, Ketua Panitia HUT Kota Jogja ke-250 tahun.
Saking meriahnya, Perempatan Kantor Pos Besar yang menjadi titik pusat acara ini tumpah ruah dengan masyarakat. Mereka ingin menyaksikan atraksi dengan beragam seni bahkan berdesak-desakan sembari menonton. Menjelang malam, sebuah drama tari bertajuk 'Hadeging Kutha Ngayogyakarta' digelar sebagai puncak rangkaian Pawai Hadeging Kutha Ngayogyakarta.
Drama tari itu bercerita tentang sejarah berdirinya Kota Jogja. Dengan durasi singkat 20 menit, drama tari ini mampu membuat masyarakat, baik tua, muda, dan anak-anak mengingat tentang sejarah kota yang mereka diami, Jogja. Pada tempat yang sama, tepatnya belakang penonton yang membentuk lingkaran di kantor Pos besar, depan Bank BNI, ditampilkan pula iring-iringan komunitas yang siap tampil.
Di tengah hiruk pikuk suasana yang membuat masyarakat merasa puas, even ini juga mampu menarik minat wisatawan untuk berkunjung. Seorang turis dari Australia, Chaterine Dei misalnya, menyatakan tertarik dengan tampilan rangkaian acara ini. Baginya, ini adalah pesta masyarakat dengan memberikan pengalaman sejarah yang ditampilkan secara apik dan menarik.

Sumber tokhe : http://www.trulyjogja.com/ di sini
Selengkapnya...

’Kendi Ijo’ Dibagikan di Suran Mbah Demang

Masyarakat Desa Banyuraden, Kecamatan Gamping, Sleman kembali menggelar upacara adat Suran Mbah Demang. Upacara adat yang dilaksanakan setiap bulan Sura tanggal 7 atau tepatnya saat tengah malam tanggal 8 Sura (bulan Jawa) untuk tahun ini jatuh pada hari Minggu (4/1).
Rangkaian puncak upacara adat Suran Mbah Demang diawali dengan pembagian ‘Kendi Ijo’ kepada pengunjung sekitar jam 13.30 di sekitar pendapa Mbah Demang. ‘Kendi Ijo’ adalah nasi yang dilengkapi lauk pauk dibungkus dengan daun pisang yang berwarna hijau.
Ada kepercayaan di masyarakat, dengan mendapatkan ‘Kendi Ijo’ maka akan mengalirkan berkah dari Tuhan. Selain sebagai manivestasi ajaran luhur Ki Demang Cokrodikromo yakni kedermawanan. Acara dilanjutkan dengan tahlil di pendapa dan nyekar di makam Mbah Demang.
Pada malam harinya sekitar jam 19.30 WIB prosesi Suran Mbah Demang dilanjutkan dengan kirab dipimpin Ki Murdopuspito dari Sanggar Widyo Permono di Dusun Cokrowijayan menuju pendapa Mbah Demang di Dusun Guyangan. Sesampai di sana Ki Murdopuspito menyerahkan benda dan pusaka Mbah Demang yang dikirab kepada ahli waris yang diwakili M Abdul Kadir. Prosesi dilanjutkan dengan Salawatan di pendapa dan Srokal (mandi Jamas Trah Mbah Demang) di sumur petilasan Mbah Demang.

tokhe on the net
Selengkapnya...

Merti Bumi Kaliurang, 60 orang Laku Prihatin Topo Mbisu

Upacara Adat Merti Bumi Kaliurang yang dilaksanakan Minggu 29 Desember 2008 di Kawasan Tlogo Putri Kaliurang berlangsung hikmad. Rangkaian upacara adat tersebut diawali dengan doa ritual dengan perlengkapan sesaji dilanjutkan dengan ritual kirab topo mbisu (kirab tanpa berbicara) dan pembagian baritan, yaitu hasil bumi atau wulu wetu yang berupa pala kependem, pala kesimpar dan pala gumantung.
Kirab tapa brata Merti Bumi Kaliurang yang berupa kirab topo mbisu diikuti oleh sekitar 60 orang dari paguyuban Pangesti Jawi pimpinan Teguh Sunardi. Sebelum kirab dilakukan diawali dengan pembacaan Kidung Sekar Dandang Gula oleh Misran Minto Jeminto. Berlaku sebagai manggolo kirab yang menempuh jarak sekitar 2 kilometer dalam waktu 2 jam tersebut adalah Slamet Purwo.
Upacara Adat Merti Bumi Kaliurang dimaksudkan sebagai permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar masyarakat Kaliurang dan sekitarnya serta masyarakat Sleman pada umumnya mendapatkan perlindungan, keselamatan dan berkah selama menjalani kehidupannya.
Usai kirab dilakukan pembagian baritan atau hasil bumi kepada masyarakat pengunjung. Kemudian dilanjutkan dengan pagelaran wayang kulit oleh dalang Ki Kuswala dengan lakon ”Semar Krido”.

tokhe on the net
Selengkapnya...

Budaya Merapi Dipamerkan di Jalan

Karnaval budaya bertajuk ”Pelangi Budaya Merapi” yang digagas Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Sleman kemarin berlangsung meriah.
Diawali dengan pasukan atau bergodo Bermono Geni milik Pemkab Sleman, rombongan karnaval berparade dengan dimeriahkan sejumlah gadis cantik yang mengenakan daun pohon salak untuk penghias kostum. Untuk membantu kampanye pemanasan global, peserta kirab juga menampilkan rombongan para pengendara sepeda.
”Rombongan dengan tanaman salak dan gunungan salak itu adalah kelompok kesenian tari salak,” ujar Kepala Disbudpar Sleman Dwi Suprayitno di sela karnaval. Berbagai potensi budaya yang dimiliki warga Sleman ikut memeriahkan parade sepanjang sekitar 1 km tersebut di antaranya ketoprak, prajurit Dowangan, kuntulan, kubrosiswo, badui, jathilan, dadungawuk, reog, barongsai.
Tak urung, rute perjalanan dari Lapangan Klebengan, Bulaksumur, Depok hingga Taman Kuliner, menjadi macet. Para pengguna jalan banyak yang memanfaatkan tontonan gratis karnaval.

sumber tokhe :
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/195739/
Selengkapnya...

Kirab Pelangi Budaya Bumi Merapi

SLEMAN, KOMPAS. Acara kirab budaya dan kesenian bertajuk Pelangi Budaya Bumi Merapi yang baru pertama kali digelar di Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta, diwarnai turunnya hujan, Minggu (14/12). Meski demikian, parade yang melibatkan sekitar 500 peserta dari berbagai kelompok kesenian di Sleman itu berlangsung semarak.
Acara yang digelar sebagai salah satu agenda promosi wisata di Kabupaten Sleman itu melibatkan 34 kelompok kesenian dari sembilan kecamatan di wilayah Sleman. Di antaranya adalah komunitas sepeda onthel berbusana Jawa, ketoprak, prajurit Dowangan, dan kesenian religius Kuntulan.
Selain itu, ada pula kesenian jatilan, reog, barongsai, wayang orang, serta gabungan berbagai prajurit (bregada) dan kelompok karawitan. Parade dimulai dari Lapangan Klebengan, Kecamatan Depok, melintasi Jalan Samirono, Jalan Affandi (Gejayan), Perempatan Jalan Lingkar Condong Catur, dan berakhir di Taman Kuliner Condong Catur. Selama perjalanan sekitar 5 kilometer itu, rombongan mempertunjukkan kesenian masing-masing yang menarik perhatian warga dan turis. Bahkan, akibat rombongan yang memakan lebih dari separuh badan jalan, arus lalu lintas di beberapa titik mengalami kemacetan panjang.

Sumber tokhe :
http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/12/15/11095034/kirab.pelangi.budaya.bumi.merapi
Selengkapnya...

“Pelangi Budaya Bumi Merapi” Digelar

Event akbar karnaval “Pelangi Budaya Bumi Merapi” jadi digelar pada hari Minggu 14 Desember 2008 dengan start di Lapangan Klebengan dan berakhir di Taman Kuliner Condongcatur Sleman.
Event yang dimaksudkan untuk menggemakan dan menggelorakan potensi budaya di Kabupaten Sleman ini ditandai dengan parade atau kirab budaya yang melibatkan ribuan orang yang terbagi dalam berbagai kelompok, diantaranya komunitas sepeda onthel berbusana Jawa, kethoprak, prajurit Bremoro Geni Dowangan, kesenian religius Kuntulan, Kubrosiswo, Badui, jathilan dan pawang, dadung awuk, reog, barongsai, kesenian Bhinneka Tunggal Ika, prajurit Bregas, wayang orang, kesenian/ tarian salak pondoh, gabungan berbagai prajurit dan kelompok karawitan.
Karnaval direncanakan dimulai jam 09.00 WIB dari Lapangan Klebengan melintasi jalur Jalan Samirono – Jalan Affandi (Gejayan) – Perempatan Ring Road Condongcatur – dan finish di Taman Kuliner Condongcatur. Usai karnaval akan dilakukan acara seremonial diikuti dengan display dari berbagai bregada.
Karnaval yang bertajuk “Pelangi Budaya Bumi Merapi” ini menyajikan keanekaragaman potensi budaya lokal yang langsung bersentuhan dengan masyarakat yang meliputi upacara adat, upacara tradisi budaya, sanggar-sanggar seni budaya, dan sebagainya. Sehingga diharapkan dengan karnaval “Pelangi Budaya Bumi Merapi” masyarakat akan semakin mengenal dan mencintai budaya sendiri sebagai kekayaan yang adiluhung. Selanjutnya diharapkan pula dengan momen ini masyarakat dapat memberikan apresiasi positif sekaligus berupaya untuk melestarikan dan “nguri-uri” budaya yang apabila diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari dapat meningkatkan daya tahan budaya terhadap pengaruh negatif akulturasi budaya sebagai salah satu akibat globalisasi.

tokhe on the net
Selengkapnya...

Pelangi Budaya Bumi Merapi

Dalam upaya menggemakan dan menggelorakan potensi budaya di Kabupaten Sleman, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman akan menggelar event akbar “Pelangi Budaya Bumi Merapi”, yang acara puncaknya berupa Karnaval “Pelangi Budaya Bumi Merapi”, Minggu, 14 Desember 2008.
Event akbar “Pelangi Budaya Bumi Merapi” di penghujung tahun 2008 tersebut merupakan perpaduan dari berbagai kegiatan yang meliputi Festival Macapat Tingkat Nasional, Gelar Wayang Anak-Anak, Pameran Foto, Lomba Kreasi Kuliner Buah Tangan dan Karnaval “Pelangi Budaya Bumi Merapi”.
Sedangkan Karnaval “Pelangi Budaya Bumi Merapi” akan dimulai dari Lapangan Klebengan menuju Taman Kuliner Condongcatur Depok Sleman, dengan rute Lapangan Klebengan – Jalan Samirono – Jalan Affandi (Gejayan) – Perempatan Ring Road Condongcatur – Taman Kuliner. Rangkaian karnaval budaya ini diawali dengan Bregada, Sepeda Onthel Berbusana Jawa, diikuti dengan konfigurasi dan visualisasi yang menggambarkan makna simbolik berupa pengayoman, dinamika masyarakat yang religius, dinamis dan multikultural, kesuburan bumi Merapi, mata pencaharian masyarakat “Sembada” serta kondisi keamanan Kabupaten Sleman.
Konfigurasi dan visualisasi paling depan sebagai pembuka karnaval mengandung makna simbolik pengayoman yang menggambarkan ilustrasi bahwa setiap warga masyarakat Sleman dan siapapun yang bermukim diwilayah Sleman akan diayomi dalam suasana yang aman, yaitu dalam bentuk pethilan drama kethoprak dengan ceritera “Sumpah Palapa Gadjahmada”. Makna simbolik dinamika masyarakat yang religius, dinamis dan multi kultural secara berturut-turut digambarkan dalam kesenian badui, kobrasiswa, kuntulan, Slawatan Islam/Kristen, jathilan, angguk, seni thek-thek, gejog lesung, kelompok kesenian dari berbagai daerah.
Makna simbolik kesuburan bumi merapi digambarkan dengan penampilan 55 orang penari wayang orang yang membawa gunungan dan 100 orang penari salak pondoh. Makna simbolik mata pencaharian masyarakat “Sembada” digambarkan dalam bentuk Festival Andong Hias dengan peserta komunitas perhotelan, restoran, pariwisata, kerajinan, pendidikan, dsb dan instansi pemerintah yang memiliki kelompok binaan terkait dengan mata pencaharian masyarakat. Sedangkan makna simbolik kondisi keamanan digambarkan dengan parade Bregada ”Holobis Kuntul Baris”.
Dalam kesempatan yang sama, panitia menyediakan penghargaan dalam bentuk hadiah dan trophy kepada 5 (lima) peserta terbaik Festival Andong Hias, yang meliputi Juara I, Juara II, Juara III dan Juara Harapan I, Juara Harapan II. Sehubungan dengan hal tersebut, bagi insan pariwisata yang akan mengikuti Festival Andong Hias dapat menghubungi Dinas Kebudayan dan Pariwisata Kabupaten Sleman, Jl. KRT Pringgodiningrat No.13 Tridadi Sleman Telp. 0274 – 869 613.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman Drs. Dwi Supriyatno, MS mengungkapkan bahwa momen akhir tahun ini merupakan momen yang tepat untuk menggemakan dan menggelorakan potensi budaya Sleman. Acara "Pelangi Budaya Bumi Merapi” yang menggambarkan keanekaragaman potensi budaya lokal yang langsung bersentuhan dengan masyarakat yang meliputi upacara adat, upacara tradisi budaya, sanggar-sanggar seni budaya, dan sebagainya. Diharapkan dengan acara "Pelangi Budaya Bumi Merapi” masyarakat akan semakin mengenal dan mencintai budaya sendiri sebagai kekayaan yang adiluhung. Selanjutnya diharapkan pula dengan momen ini masyarakat dapat memberikan apresiasi positif sekaligus berupaya untuk melestarikan dan “nguri-uribudaya yang apabla diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari dapat meningkatkan daya tahan budaya terhadap pengaruh negatif akulturasi budaya sebagai salah satu akibat globalisasi.
Dwi mengharapkan event “Pelangi Budaya Bumi Merapi” seperti ini dapat menjadi event akbar tahunan yang mampu memberikan daya tarik terhadap wisatawan untuk datang berkunjung ke Sleman pada khususnya dan DIY pada umumnya.

Sumber tokhe :
Selengkapnya...

Sleman Tampilkan Laskar Bremara Geni dalam Festival Prajurit di TMII

Kabupaten Sleman akan turut mendukung dan mensukseskan pelaksanaan Festival Prajurit dalam rangka Karnaval Prajurit Tradisional Nusantara tahun 2008 yang akan diselenggarakan di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta, Minggu 2 November 2008. Bentuk dukungan tersebut adalah pengiriman Laskar Bremara Geni yang beranggotakan 60 orang prajurit.
Bregada Prajurit Bremoro Geni merupakan salah satu pendukung pada kirab prosesi Upacara Adat Mbah Demang yang dilaksanakan setiap Bulan Suro. Upacara Adat Mbah Demang ini merupakan rangkaian kegiatan budaya untuk mengenang perjuangan Ki Demang Cakradikrama. Dalam prosesi ini dilakukan kirab pusaka peninggalan Ki Demang, Gunungan Kendi Ijo dan Gunungan Wulu Wetu.
Upacara Adat Mbah Demang mengilustrasikan perjuangan Ki Bagus Asrah sebagai demang dengan nama Ki Demang Cakradikrama pada masa penjajahan Belanda. Ki Demang Cakradikrama memiliki sifat kedermawanan, arif dan bijaksana terhadap rakyatnya. Setiap bulan Suro, Ki Demang mengadakan tirakat mandi tengah malam di sumur tiban dan membagikan nasi yang dibungkus daun pisang yang dikenal dengan “Kendi Ijo” kepada masyarakat yang hadir.
Ki Demang Cakradikrama yang bernama asli Bagus Asrah merupakan putra angkat sekaligus penerus perjuangan Ki Demang Dowangan yang memiliki kegigihan, tekad dan semangat yang bulat untuk melakukan perlawanan terhadap penjajahan Belanda. Bermodalkan senjata tradisional berupa panah, keris dan tombak serta strategi perang COKRO BIUHO atau lingkaran matahari mereka berhasil mengusir penjajah dari bumi pertiwi.
Sementara itu Kepala Bidang Peninggalan Budaya dan Nilai Tradisional Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman HY Aji Wulantoro, SH mengungkapkan bahwa event Festival Prajurit ini merupakan ajang yang cukup strategis bagi upaya revitalisasi, pelestarian dan peningkatan apresiasi dikalangan pelaku seni budaya maupun bagi masyarakat secara umum. Aji juga menambahkan bahwa seni dan budaya memiliki peran yang cukup signifikan dalam membangun peradaban manusia menuju peradaban yang adiluhung. Dalam hal ini pula pemerintah tidak bisa secara terpisah melakukan upaya pelestarian seni budaya tanpa adanya peran aktif dari para stakeholder dan masyarakat umum. Pemerintah, stake holder dan masyarakat perlu secara terpadu dan sinergis membangun peradaban melalui pelestarian seni dan budaya yang ada di masing-masing daerah.

Sumber tokhe :
http://www.tourismsleman.com/index.php?option=com_content&task=view&id=155&Itemid=43&lang=id_ID
Selengkapnya...

Your Ad Here

Mesin Pencari Pekerjaan