===============================================================
Tampilkan postingan dengan label grebeg. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label grebeg. Tampilkan semua postingan

Ngalap Berkah Lewat Gunungan

Dalam setiap upacara garebeg maulud yang diadakan oleh Kasultanan Yogyakarta, ada satu kegiatan yang tidak pernah dilewatkan oleh masyarakat. Apalagi jika bukan bagi-bagi gunungan yang selalu dinantikan oleh para pengunjung yang hadir. Saking antusiasnya masyarakat untuk mendapatkan bagian dari gunungan tersebut, mereka harus berdesakan bahkan berebutan untuk mendapatkan sesajen yang dipercaya bisa membawa berkah bagi mereka yang bisa mendapatkannya. Aksi pengunjung demikian disebut juga sebagai ngalap berkah atau mencari berkah.
Gunungan berasal dari kata gunung karena sesajen yang diusung bentuknya menyerupai gunung. Ada enam jenis gunungan yang dikenal oleh masyarakat yaitu gunungan lanang, gunungan wadon, gunungan gepak, gunungan pawuhan, gunungan dharat, serta gunungan kutug/bromo. Namun dari keenam gunungan tersebut hanya lima saja yang selalu disajikan dalam setiap grebeg yaitu semua yang telah disebutkan sebelumnya, kecuali gunungan kutug/bromo. Gunungan kutug/bromo sendiri hanya dibuat setiap delapan tahun sekali, bertepatan dengan tahun Dal.
Jika Anda berkesempatan untuk menyaksikan prosesi arak-arakan gunungan pada acara grebeg mulud, maka Anda bisa melihat ada enam belas orang yang memikul setiap gunungan. Untuk gunung lanangan, diperlukan tambahan satu orang untuk memegang tongkat. Tongkat itu bukan sembarang tongkat karena salah satu ujungnya harus ditekan ke bagian puncak gunungan agar dapat tegak lurus selama diusung ke Masjid Besar melewati Sitihinggil, Tratag Pagelaran, sampai Alun-Alun Utara.
Isi dari gunungan juga bervariasi. Untuk gunungan lanang misalnya, berisi antara lain hasil tanduran atau tanaman rakyat seperti kacang panjang dan cabai merah selain adapula tumpeng nasi. Gunungan gepak terbuat dari kue-kue kecil yang memiliki lima macam warna yaitu warna kuning, biru, merah, hitam, serta hijau. Pada gunungan dharat, masyarakat bisa mendapati kue besar berbentuk lempengan yang berwarna hitam. Di sekeliling kue itu ada kue-kue ketan berbentuk lidah yang disebut ilat-ilatan (ilat adalah lidah dalam bahasa Jawa). Kue-kue berbahan ketan seperti wajik dan rengginang menghiasi gunungan wadon. Gunungan wadon jika diamati bentuknya menyerupai sebuah bunga raksasa. Sedangkan gunungan dharat bahan pembuatnya kurang lebih serupa dengan gunungan wadon.
Gunungan sendiri dipercaya sebagai simbolisasi berkah bagi masyarakat, khususnya masyarakat Jogja. Masih banyak warga Jogja yang percaya bahwa bagian sesajen itu, walau hanya sedikit, bisa mendatangkan rizki bagi mereka. Sebelum diarak dan dibagikan, gunungan-gunungan tersebut dibacakan doa-doa yang dianggap menyucikan. Karenanya gunungan juga dipercaya bisa mengusir kekuatan jahat. Begitu kuatnya kepercayaan masyarakat terhadap kekuatan gunungan, tak jarang ditemui pengunjung yang hadir juga berasal dari wilayah luar Jogja.

Sumber Tokhe on the Net : trulyjogja
Selengkapnya...

Kirab Bekakak; Kekayaan Budaya dari Gamping

Yogyakarta memang menyimpan beragam khasanah kebudayaan, yang mungkin masih jarang diketahui oleh para penduduk luar Jogja. Pun penduduk Jogja masih banyak yang awam tentang keanekaragaman budaya yang ada karena sebagian dari mereka adalah para pendatang. Salah satu kekayaan budaya yang gaungnya masih kalah menggema dibandingkan grebeg mulud adalah upacara Saparan atau dikenal pula dengan Kirab Bekakak.
Kirab bekakak yang diadakan setiap tahun di Gamping, Sleman ini sejatinya masuk dalam kalender pariwisata pemerintah Kabupaten Sleman dan pemerintah Provinsi DIY. Namun entah karena lokasi pelaksanaannya yang jauh dari pusat kota, atau lantaran faktor yang lain, acara yang satu ini memang jauh kemeriahannya dibandingkan grebeg mulud atau sekatenan. Acara ini sendiri diadakan tiap hari Jum’at, minggu ke tiga bulan Sapar (nama bulan dalam penanggalan Islam). Kenyataannya, kirab bekakak ini tidak kalah menarik untuk dinikmati dan diikuti.
Dalam setiap penyelenggaraannya, rute Kirab diawali dari Balai Desa Ambarketawang, berjalan menuju Pesanggrahan Ambarketawang yang terletak di Gunung Gamping. Dalam Kirab tersebut diaraklah dua pasang boneka penganten, disebut pula bekakak, yang dibuat dari tepung beras ketan yang diisi juruh atau gula merah yang dicairkan. Selain arakan bekakak, Kirab juga diikuti oleh brigade prajurit serta rombongan berbagai macam kesenian tradisional. Sesampainya di Pesanggarahan, penganten atau bekakak tersebut disembelih hingga keluar juruh-nya dan kemudian disebarkan ke arah pengunjung.
Para pengunjung selalu dengan rela menunggu sambil berdesak-desakan untuk mendapatkan bagian dari bekakak tersebut. Mereka percaya, walaupun sedikit, tubuh bekakak yang terbuat dari ketan itu bisa mendatangkan berkah bagi mereka yang berhasil mendapatkannya. Tradisi seperti ini memang masih melekat pada sebagian masyarakat Jawa pada umumnya dan Jogja pada khususnya. Orang menyebutnya ngalap berkah.
Adapun cerita di balik penyelenggaraan kirab bekakak ini dipercaya berawal dari meninggalnya Ki Wirosuto bersama keluarganya akibat runtuhnya Gunung Gamping. Ki Wirosuto sendiri adalah abdi Raja Mataram Sultan Hamengkubuwono I. Upacara Saparan ini merupakan perintah dari Sultan kepada Demang Gamping untuk mengadakan selamatan dengan membuat sepasang boneka yang terbuat dari tepung beras ketan berisikan gula merah cair. Boneka tersebut harus disembelih sebagai simbolisasi pengorbanan Ki Wirosuto.
Adapula cerita lain yang menyebutkan bahwa tradisi ini ditujukan pula untuk keselamatan bagi penduduk setempat yang pada umumnya berprofesi sebagai pengambil kapur gamping. Konon dahulu banyak orang yang tergelincir dan meninggal saat mengambil batu gamping. Dan anehnya kecelakaan yang merenggut nyawa itu selalu terjadi pada bulan Sapar. Oleh karena itu dengan diadakannya tardisi Saparan, warga setempat percaya bahwa tradisi ini sanggup memberikan kedamaian serta ketentraman bagi mereka. Dengan menjaga dan melestarikan tradisi ini, segala kesialan dan mara bahaya dipercaya bisa menjauh dari masyarakat setempat.

tokhe on the net
Selengkapnya...

Upacara Grebeg Maulud

Upacara yang juga biasa disebut "Bedhol Songsong" oleh masyarakat Yogyakarta ini merupakan upacara puncak dari peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Upacara ini diselenggarakan pada tanggal 12 Maulud setiap tahunnya. Ini berarti pagi hari setelah perangkat gamelan kyai Nogowilogo dan Kyai Gunturmadu dibawa masuk kembali ke dalam keraton dan di simpan di bangsal Sri Manganti.
Upacara Grebeg Maulud dimulai dengan kirab atau parade kesatuan prajurit keraton yang mengenakan pakaian kebesaran masing-masing. Sedangkan puncak dari acara ini adalah iringan gunungan yang dibawa menuju Masjid Agung, dimana diselenggarakan do'a dan upacara persembahan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa.
Pada upacara ini, sebagian gunungan, yang dipercaya memiliki daya tuah terutama bagi kaum tani, dibagi-bagikan kepada masyarakat dengan cara diperebutkan. Masyarakat berebut mendapatkannya. Menutut anggapan mereka, dengan mendapatkan bagian dari gunungan ini, tekad mereka akan dapat semakin kuat. Dan bila di tanam di lahan persawahan, maka hasil panen mereka akan melimpah. Mereka meyakini bahwa khasiat do'anya dapat membawa berkah dari Tuhan berupa kesuburan dan terhindar dari berbagai hama perusak tanaman.
Tak hanya Upacara Grebeg Maulud, banyak upacara kebudayaan lainnya yang diselenggarakan di Yogyakarta. Salah satunya adalah Grebeg Besar yang diselenggarakan pada tanggal 10 Bulan Besar, berkaitan dengan peringatan Hari Raya Qurban – Idhul Adha. Upacara lainnya adalah Grebeg Syawal yang di selenggarakan pada tanggal 1 Syawal sebagai ucapan terimakasih dan rasa syukur masyarakat Yogyakarta kepada Tuhan, dengan telah berhasil diselesaikannya ibadah puasa Ramadhan selama satu bulan penuh.

tokhe on the net
Selengkapnya...

Your Ad Here

Mesin Pencari Pekerjaan