===============================================================
Tampilkan postingan dengan label tokhe. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tokhe. Tampilkan semua postingan

Pelangi Budaya Bumi Merapi 2009 penuh Batik

Bregodo Bremoro Geni dari Dowangan Banyuraden mengikuti Kirab Pelangi Budaya Bumi Merapi, Rabu (2/12) yang diselenggarakan oleh Dinpar. Kab. Sleman di Jalan Magelang, Sleman. Kirab tahun yang menempuh jarak sekitar tiga kilometer dari Lapangan Mlati hingga Lapangan Denggung. Kirab kali ini diikuti lebih dari 4000 peserta dari berbagai kalangan kelompok seni.

Kelompok budaya meliputi bregada prajurit tradisional, kesenian tradisional yaitu kuntulan, badui, emprak, topeng poleng, wayang orang, putri sigrak, dan paguyuban budaya, komunitas mahasiswa dan perguruan tinggi. Kelompok pariwisata dan batik meliputi perhotelan, travel agent, para pengusaha batik, desa-desa wisata, dsb.

Sedangkan acara pendukung event Pelangi Budaya Bumi Merapi yang ditampilkan berupa pentas seni budaya yang meliputi jathilan, kobrasiswa, macapat, dolanan anak, dadhung awuk, barongsai dan karawitan anak.

Karnaval Pelangi Budaya Bumi Merapi ini merupakan kegiatan budaya yang merupakan wujud nyata dari keanekaragaman potensi budaya dan seni di Kabupaten Sleman yang dieksplorasikan melalui kreativitas dan inovasi para peserta karnaval.

Peserta kirab terdiri dari pejalan kaki dan kendaraan hias. Semua peserta mengenakan pakaian batik juga ornament batik pada setiap kendaraan. Hal ini sengaja dilakukan dalam rangka memperingati pengukuhan batik sebagai warisan khas leluhur Indonesia dari UNESCO.

Event ini diharapkan menjadi sarana aktualisasi sekaligus sebagai media internalisasi potensi seni dan budaya di kalangan para pelaku seni dan budaya. Tak hanya itu, kegiatan ini juga diharapkan mampu menjadikan wahana apresiasi positif bagi masyarakat umum dan wisatawan.


Foto Tokhe on the Net : ANTARA/Wahyu Putro A/ss/pd/09

Selengkapnya...

Ngalap Berkah Lewat Gunungan

Dalam setiap upacara garebeg maulud yang diadakan oleh Kasultanan Yogyakarta, ada satu kegiatan yang tidak pernah dilewatkan oleh masyarakat. Apalagi jika bukan bagi-bagi gunungan yang selalu dinantikan oleh para pengunjung yang hadir. Saking antusiasnya masyarakat untuk mendapatkan bagian dari gunungan tersebut, mereka harus berdesakan bahkan berebutan untuk mendapatkan sesajen yang dipercaya bisa membawa berkah bagi mereka yang bisa mendapatkannya. Aksi pengunjung demikian disebut juga sebagai ngalap berkah atau mencari berkah.
Gunungan berasal dari kata gunung karena sesajen yang diusung bentuknya menyerupai gunung. Ada enam jenis gunungan yang dikenal oleh masyarakat yaitu gunungan lanang, gunungan wadon, gunungan gepak, gunungan pawuhan, gunungan dharat, serta gunungan kutug/bromo. Namun dari keenam gunungan tersebut hanya lima saja yang selalu disajikan dalam setiap grebeg yaitu semua yang telah disebutkan sebelumnya, kecuali gunungan kutug/bromo. Gunungan kutug/bromo sendiri hanya dibuat setiap delapan tahun sekali, bertepatan dengan tahun Dal.
Jika Anda berkesempatan untuk menyaksikan prosesi arak-arakan gunungan pada acara grebeg mulud, maka Anda bisa melihat ada enam belas orang yang memikul setiap gunungan. Untuk gunung lanangan, diperlukan tambahan satu orang untuk memegang tongkat. Tongkat itu bukan sembarang tongkat karena salah satu ujungnya harus ditekan ke bagian puncak gunungan agar dapat tegak lurus selama diusung ke Masjid Besar melewati Sitihinggil, Tratag Pagelaran, sampai Alun-Alun Utara.
Isi dari gunungan juga bervariasi. Untuk gunungan lanang misalnya, berisi antara lain hasil tanduran atau tanaman rakyat seperti kacang panjang dan cabai merah selain adapula tumpeng nasi. Gunungan gepak terbuat dari kue-kue kecil yang memiliki lima macam warna yaitu warna kuning, biru, merah, hitam, serta hijau. Pada gunungan dharat, masyarakat bisa mendapati kue besar berbentuk lempengan yang berwarna hitam. Di sekeliling kue itu ada kue-kue ketan berbentuk lidah yang disebut ilat-ilatan (ilat adalah lidah dalam bahasa Jawa). Kue-kue berbahan ketan seperti wajik dan rengginang menghiasi gunungan wadon. Gunungan wadon jika diamati bentuknya menyerupai sebuah bunga raksasa. Sedangkan gunungan dharat bahan pembuatnya kurang lebih serupa dengan gunungan wadon.
Gunungan sendiri dipercaya sebagai simbolisasi berkah bagi masyarakat, khususnya masyarakat Jogja. Masih banyak warga Jogja yang percaya bahwa bagian sesajen itu, walau hanya sedikit, bisa mendatangkan rizki bagi mereka. Sebelum diarak dan dibagikan, gunungan-gunungan tersebut dibacakan doa-doa yang dianggap menyucikan. Karenanya gunungan juga dipercaya bisa mengusir kekuatan jahat. Begitu kuatnya kepercayaan masyarakat terhadap kekuatan gunungan, tak jarang ditemui pengunjung yang hadir juga berasal dari wilayah luar Jogja.

Sumber Tokhe on the Net : trulyjogja
Selengkapnya...

Keris

Keris mempunyai peran yang besar dalam kehidupan bermasyarakat Jawa semenjak dahulu kala. Pada awalnya, keris dibuat untuk digunakan sebagai senjata. Namun seiring perkembangan jaman, keris bertambah fungsinya sebagai benda yang dikeramatkan.
Banyak orang yang percaya bahwa keris memiliki kekuatan magis. Kekuatan itu pun berbeda-beda pada setiap kerisnya. Mereka percaya bahwa kekuatan keris yang muncul tergantung pada kondisi keris. Kekuatan ini muncul dari Dapur-nya atau Pamor-nya.
Berdasarkan bentuknya, keris Jawa dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu Lurus dan Luk. Bentuk keris itulah yang menentukan Dapur-nya. Tidak cuma beberapa jenis, keris ini mempunyai ratusan bentuk yang berbeda-beda.
Pamor berarti penamaan. Ini bagian yang amat penting pada keris. Berdasarkan kepercayaan umumnya, Pamor memiliki kekuatan magis yang besar dan berpengaruh pada kehidupan pemiliknya. Pengaruh ini amat bervariasi. Ada banyak nama dari Pamor.

Sumber Tokhe on the Net : http://trulyjogja.com
Selengkapnya...

Batik Tidak Alami Lagi

Pewarna alami merupakan daya tarik batik Jawa yang sudah digemari masyarakat internasional sejak zaman kolonial. Sayangnya saat ini batik yang dijual dipasaran sudah tidak lagi menggunakan pewarna yang sepenuhnya alami.
Hal itu disampaikan Ketua Paguyuban Pecinta Batik Indonesia Sekar Jagad, Ir Larasati Suliantoro Sulaiman, Selasa (17/6) dalam Pameran Batik Nusantara, di Taman Budaya Yogya, Jalan Sriwedani.
“Padahal, sebelumnya para pembatik kita menggunakan pewarna alami. Tidak ada yang mengenal pewarna kimia,” ujarnya.
Merujuk pada buku Mussenbroeck KatoenVerven in Java (1877), Larasati menyatakan, lebih dari 75 pohon perdu dulunya dipakai manusia Jawa untuk mencelup dan menghasilkan lebih dari 36 keselarasan warna pada batik.
Namun, datangnya indigo synthetic (nila sintetis) dari Jerman pada 1897 membuat para pelaku usaha batik tak lagi menggunakan pewarna alami seperti yang diambil dari pohon nila (Indigofera tinctoria) dan pohon soga.
“Mereka beralih menggunakan pewarna kimia karena proses pencelupan warna yang lebih cepat. Padahal, kandungan karsinogennya tidak ramah lingkungan,” ujarnya.
Karena itu, dalam tiga tahun terakhir, batik dengan pewarna alami mulai diujicobakan di laboratorium oleh tim dari Institut Pertanian Yogyakarta untuk diperkenalkan kembali ke masyarakat luas sebagai batik yang mewakili budaya Jawa.
“Apalagi, batik sebagai salah satu ikon budaya Jawa, seharusnya memperlihatkan nilai keasliannya,” tambahnya.

Sumber Tokhe on the Net : http://krjogja.com
Selengkapnya...

Merti Desa, Sarat Makna dan Gugah Rasa Kebersamaan

Indonesia dulu terkenal dengan budaya guyub-nya. Satu rasa satu sama. Saat ini seiring dengan arus perubahan zaman yang disertai pergeseran tata nilai, struktur sosial masyarakat berubah dari masyarakat paguyuban menjadi patembayan. Masyarakat desa saat ini diidentikan dengan struktur paguyuban sedangkan masyarakat kota sama dengan patembayan.
Dengan adanya perubahan tata nilai, maka ada pula tradisi-tradisi yang berubah. Orang Jawa pada umumnya, termasuk orang Jogja setiap kali selesai melakukan panen raya selalu mengadakan upacara yang disebut Merti Desa. Merti Desa atau bersih desa merupakan sebuah wujud kearifan lokal yang sempat terombang-ambing di tengah arus perubahan nilai termasuk dengan derasnya nilai budaya asing yang masuk ke negeri kita. Kini semangat yang terkandung di dalam Merti Desa sepatutnya direvitalisasi dalam sebuah momen yang menggugah rasa kebersamaan masyarakat, khususnya di perkotaan, untuk sejenak melepaskan kesibukan kerja dan kembali menjalin komunikasi dengan tetangga atau masyarakat di lingkungan sekitar. Pemerintah Provinsi Yogyakarta saat ini kembali menggalakkan perayaan Merti Desa di kalangan masyarakat.
Merti Desa atau bersih desa pada hakikatnya merupakan sebuah kegiatan yang menjadi simbol rasa syukur masyarakat kepada Tuhan atas segala karunia yang diberikan-Nya. Karunia tersebut bisa berupa apa saja seperti rezeki, keselamatan atau juga kesalarasan dan ketentraman. Lebih dari itu, merti desa juga merupakan sebuah wadah di mana para penduduk bisa membina tali silaturahmi, saling menghormati, serta saling tepa selira. Seperti diketahui bersama bahwa ketiga hal tersebut sudah mulai jarang terkespresikan di dalam masyarakat. Padahal terlepas dari berbagai kemudahan teknologi yang bisa mempermudah tali silaturahmi misalnya, sebagai makhluk sosial sejatinya kita perlu berinterksi dan bertemu langsung dengan masyarakat lainnya.
Selain sebagai manifestasi rasa syukur kepada Yang Maha Esa, Merti Desa juga merupakan sebuah perwujudan keselarasan manusia dengan alam. Selama hidupnya manusia telah hidup berdampingan dengan alam dan mengambil banyak materi dari alam. Namun demikian, pemanfaatan itu tidak boleh terlepas dari tata cara sehingga bisa menimbulkan eksploitasi berlebihan terhadap alam. Padahal dalam hakikatnya manusia dan alam saling melengkapi. Jika dalam panen raya, masyarakat mendapatkan hasil yang banyak hal itu tentu saja tidak terlepas dari tata cara pengolahan alam yang baik.
Dalam upacara merti desa selalu ada gunungan yang dijadikan persembahan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Gunungan itu isinya bisa bermacam-macam. Namun pada umumnya gunungan dibuat hasil bumi lokal seperti buah pisang, ketela rambat atau pohon. Contohnya pada Merti Bumi yang dilaksanakan di daerah Turi Sleman, gunungan yang disajikan biasanya terbuat dari salak yang merupakan hasil bumi paling populer di sana.
Tata cara Merti Desa biasanya diawali dengan pengambilan air dari sendang atau sumber air setempat. Kemudian air tersebut dikirabkan dengan bersama dengan sesajen serta ubo rampe yang telah persiapkan. Jika daerah tersebut memiliki warisan pusaka, maka umumnya pusaka tersebut turut dikirabkan juga. Setelah selesai dikirabkan, gunungan dan ubo rampe akan diperebutkan oleh penduduk setempat. Sebagai rangakaian upacara Merti Desa, selalu ada acara kesenian tradisional seperti jathilan atau wayang kulit. Merti Desa dalam hal ini memang tempat yang sangat ideal untuk mempertemukan kembali masyarakat dari segala ritual atau kesibukan mereka sehari-hari.

Sumber Tokhe on the Net : http://www.trulyjogja.com
Selengkapnya...

Meriah Puncak Acara Hari Jadi Kabupaten Sleman ke-93

Puncak acara Hari Jadi ke-93 Kabupaten Sleman yang jatuh pada tanggal 15 Mei 2009 dilaksanakan dengan upacara di Lapangan Denggung pada pukul 15.00 WIB. Para peserta upacara berpakaian adat Jawa lengkap dan dilaksanakan dengan Bahasa Jawa. Peserta upacara merupakan karyawan dinas dan instansi di lingkungan Pemkab Sleman serta bregodo-bregodo prajurit, seni budaya dan paguyuban yang ada di Kabupaten Sleman.
Di daerah persiapan I atau DP I (Pendopo Parasamya) diikuti oleh Bregodo Prajurit Tambak Yuda, Bregodo Prajurit Bremoro Geni Dowangan, Pembawa Pusaka tombak Kyai Turunsih dan Rontek serta Bregodo Sekar Sedah. Di DP II diikuti oleh Bregodo Kesenian Badui, Sekretariat Dewan, Karyawan Dinas, Kantor, Badan serta 17 Kecamatan. Di DP III (Lapangan Mlati) diikuti oleh Bregodo Rampak Buta sebagai Cucuk Lampah, Bregodo Prajurit Delingsari, Tlatar, Tuk Si Bedug, Onggojoyo, Code, Ngetal, Ngrowodh, Mejing BSW, Bathok Bolu, Gamping Kidul, Kalirase, Bregas, Tunggul Wulung, Demang/Cokrowijayan, Purbaya Wotgaleh.
Upacara peringatan Hari Jadi di Lapangan Denggung dimulai dengan Tarian Pesona Lereng Merapi yang merupakan perpaduan unsur ragam gerak kesenian religius di Kabupaten Sleman yaitu badui, kubro, kuntulan, reog, jathilan dan sholawatan sebagai iringannya. Tarian ini dibawakan oleh siswa-siswi SLTA se Kabupaten Sleman (SMA 1 Kalasan, SMA 1 Ngaglik, SMA 1 Sleman, SMA 1 Seyegan dan SMA 2 Ngaglik) sejumlah ± 100 orang siswa. Gelar Tari Pesona Lereng Merapi ini menggambarkan kedinamisan masyarakat Sleman dalam membangun bumi Sembada Lereng Merapi dengan dilandasi rasa memiliki dan kecintaan terhadap kearifan seni budaya lokal.

Tokhe on the Net

Selengkapnya...

Dinas Budpar Sleman Promosikan Sadar Wisata dan Sapta Pesona

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman melakukan promosi dan penyuluhan sadar wisata dan sapta pesona bagi warga masyarakat Rumah Domes, Sengir Sumberharjo Prambanan dan sekitarnya selama dua hari Sabtu 28 Maret dan Senin 30 Maret 2009.
Sebagai pembicara dalam acara tersebut Drs. Edi Purnomo dari ASITA DIY dengan materi Sadar Wisata dan Sapta Pesona dengan topik khusus “Mempersiapkan Domes sebagai Obyek Wisata”, dosen Fakultas Teknik Arsitektur UGM Dyah Titisari, ST, MUDD dengan materi Menata Lingkungan dan Rumah dengan Asri serta teori sekaligus praktek tentang Pengolahan Limbah dan Pembuatan Pupuk Organik oleh praktisi desa wisata Sukunan Iswanto, S.Pd, M.Kes.
Sebagaimana diungkapkan panitia penyelenggara Budiharjo, A.Md, promosi dan penyuluhan sadar wisata dan sapta pesona yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang konsep Sadar Wisata dan Sapta Pesona sebagai unsur penting dalam pengembangan kepariwisataan yang akan bermuara pada peningkatan kesejahteraan rakyat. Disamping itu juga untuk mendorong peran aktif masyarakat dalam mendukung upaya terwujudnya Sadar Wisata dan Sapta Pesona.
Secara khusus, pembinaan kelompok sadar wisata ini diharapkan akan dapat memberikan tambahan pengetahuan dan ketrampilan tehnis kepada masyarakat di sekitar obyek wisata terkait dengan upaya-upaya untuk memberikan pelayanan yang baik kepada wisatawan, baik wisatawan domestik maupun manca negara. Dalam acara tersebut dihadirkan 50 warga masyarakat setempat yang terdiri atas para tokoh masyarakat dan masyarakat di sekitar Domes.
Sementara itu Kapala Seksi Pemasaran Wisata Dra. Shavitri Nurmala Dewi, MA mengungkapkan bahwa Domes sudah menjadi obyek wisata yang banyak diminati oleh wisatawan baik dalam negeri maupun manca negara. Karena disamping keunikannya yang tiada duanya di Indonesia yang dikenal juga dengan Rumah Teletubies, Domes merupakan tonggak bersejarah pasca bencana gempa bumi tahun 2006 silam. Sehubungan dengan hal tersebut ia mengajak kepada masyarakat setempat dan sekitarnya untuk menyiapkan diri sebagai tuan rumah yang baik, mengingat kedepan tentu akan semakin banyak wisatawan yang datang. Sikap dan perilaku masyarakat setempat terhadap wisatawan yang datang akan sangat berpengaruh terhadap pengembangan obyek wisata itu sendiri dimasa mendatang.
Disamping itu pula, pihak pemerintah daerah tentu akan melakukan promosi seoptimal mungkin melalui berbagai sarana, baik melalui pameran, travel dialog maupun melalui website Dinas Kebudayaan dan Pariwisata.

Sumber Tokhe on the Net :
http://www.tourismsleman.com

Selengkapnya...

Bremoro Geni, bukan Bremoro Geni

Sekedar info buat semua pandemen Bremoro Geni, Saya (admin) kemarin iseng2 searching di halamannya Mbah Google dengan kata kunci Bremoro Geni, saya menemukan hasil pencarian dari kata kunci tersebut.
Namun yang Saya (admin) heran adalah pada halaman Mbah Google terdapat Bremoro Geni yang terpaut di halaman Facebook. Nah ini benar2 sangat mengherankan bagi Saya (admin). Saya (admin) merasa belum pernah memasangkan/ membuatkan/ menggabungkan Bremoro Geni ke dalam Facebook.
Untuk itu Saya (admin) menekankan bahwa Bremoro Geni yang terdapat dalam halaman Facebook bukanlah Bremoro Geni dari Paguyuban Bremoro Mudo.
Untuk itu Saya (admin) mengharap perhatian/ menghimbau kepada seluruh penggemar Bremoro Geni untuk benar2 cermat terhadap tulusan/bacaan tentang Bremoro Geni. Sehingga tidak terjadi kesalahan yang Fatal.
Sekali lagi, Bremoro Geni yang terdapat dalam halaman Facebook BUKAN Bremoro Geni dari Paguyuban Bremoro Mudo.

tokhe on the net
Selengkapnya...

Kirab Bekakak; Kekayaan Budaya dari Gamping

Yogyakarta memang menyimpan beragam khasanah kebudayaan, yang mungkin masih jarang diketahui oleh para penduduk luar Jogja. Pun penduduk Jogja masih banyak yang awam tentang keanekaragaman budaya yang ada karena sebagian dari mereka adalah para pendatang. Salah satu kekayaan budaya yang gaungnya masih kalah menggema dibandingkan grebeg mulud adalah upacara Saparan atau dikenal pula dengan Kirab Bekakak.
Kirab bekakak yang diadakan setiap tahun di Gamping, Sleman ini sejatinya masuk dalam kalender pariwisata pemerintah Kabupaten Sleman dan pemerintah Provinsi DIY. Namun entah karena lokasi pelaksanaannya yang jauh dari pusat kota, atau lantaran faktor yang lain, acara yang satu ini memang jauh kemeriahannya dibandingkan grebeg mulud atau sekatenan. Acara ini sendiri diadakan tiap hari Jum’at, minggu ke tiga bulan Sapar (nama bulan dalam penanggalan Islam). Kenyataannya, kirab bekakak ini tidak kalah menarik untuk dinikmati dan diikuti.
Dalam setiap penyelenggaraannya, rute Kirab diawali dari Balai Desa Ambarketawang, berjalan menuju Pesanggrahan Ambarketawang yang terletak di Gunung Gamping. Dalam Kirab tersebut diaraklah dua pasang boneka penganten, disebut pula bekakak, yang dibuat dari tepung beras ketan yang diisi juruh atau gula merah yang dicairkan. Selain arakan bekakak, Kirab juga diikuti oleh brigade prajurit serta rombongan berbagai macam kesenian tradisional. Sesampainya di Pesanggarahan, penganten atau bekakak tersebut disembelih hingga keluar juruh-nya dan kemudian disebarkan ke arah pengunjung.
Para pengunjung selalu dengan rela menunggu sambil berdesak-desakan untuk mendapatkan bagian dari bekakak tersebut. Mereka percaya, walaupun sedikit, tubuh bekakak yang terbuat dari ketan itu bisa mendatangkan berkah bagi mereka yang berhasil mendapatkannya. Tradisi seperti ini memang masih melekat pada sebagian masyarakat Jawa pada umumnya dan Jogja pada khususnya. Orang menyebutnya ngalap berkah.
Adapun cerita di balik penyelenggaraan kirab bekakak ini dipercaya berawal dari meninggalnya Ki Wirosuto bersama keluarganya akibat runtuhnya Gunung Gamping. Ki Wirosuto sendiri adalah abdi Raja Mataram Sultan Hamengkubuwono I. Upacara Saparan ini merupakan perintah dari Sultan kepada Demang Gamping untuk mengadakan selamatan dengan membuat sepasang boneka yang terbuat dari tepung beras ketan berisikan gula merah cair. Boneka tersebut harus disembelih sebagai simbolisasi pengorbanan Ki Wirosuto.
Adapula cerita lain yang menyebutkan bahwa tradisi ini ditujukan pula untuk keselamatan bagi penduduk setempat yang pada umumnya berprofesi sebagai pengambil kapur gamping. Konon dahulu banyak orang yang tergelincir dan meninggal saat mengambil batu gamping. Dan anehnya kecelakaan yang merenggut nyawa itu selalu terjadi pada bulan Sapar. Oleh karena itu dengan diadakannya tardisi Saparan, warga setempat percaya bahwa tradisi ini sanggup memberikan kedamaian serta ketentraman bagi mereka. Dengan menjaga dan melestarikan tradisi ini, segala kesialan dan mara bahaya dipercaya bisa menjauh dari masyarakat setempat.

tokhe on the net
Selengkapnya...

Bekakak, Mengenang Leluhur Masyarakat Gamping

Upacara Bekakak adalah ritual khusus masyarakat Gamping yang dilakukan setahun sekali. Upacara ini sering disebut dengan Saparan karena waktu pelaksanaannya jatuh tiap Bulan Safar, bulan Arab kedua, antara tanggal 10-20.
Ritual Bekakak dilakukan untuk mengenang dan menghormati arwah Kiai dan Nyai Wirosuto sekeluarga, sebagai abdi dalem perangsang (hamba yang memayungi) Sri Sultan Hamengku Buwono I, yang diyakini sebagai cikal bakal penduduk Gamping, Kabupaten Sleman, Yogyakarta.
Dahulu, ketika Sri Sultan Hamengku Buwono I pindah dari Keraton Ambarketawang, kedua suami istri tersebut tidak ikut. Bersama keluarganya ia tetap bertempat tinggal di Gamping. Sejak saat itulah dia dianggap sebagai cikal bakal atau leluhur masyarakat Gamping.
Bekakak sendiri berarti kurban penyembelihan hewan atau manusia. Namun, berbeda dengan Idul Adha yang menjadikan domba sebagai hewan kurban, dalam Bekakak, yang menjadi kurban adalah sepasang pengantin tiruan yang dibuat dari beras ketan dan dihias sedemikian rupa. Pengantin perempuan dirias bergaya pengantin Solo, dan laki-laki bergaya Yogyakarta.
Terdapat beberapa tahapan dalam prosesi acara Bekakak. Pertama adalah tahap midodareni, yaitu tahap tirakatan yang dilaksanakan malam hari untuk meminta restu kepada bidadari yang diyakini akan turun. Meski pengantin Bekakak hanyalah tiruan, tapi tetap dilakukan seperti layaknya pengantin sungguhan.
Tahapan itu berlangsung pada malam Jumat, dimulai sekitar pukul 20.00 WIB. Dua buah jali berisi pengantin Bekakak dan sebuah jodhang (bejana) berisi sesaji disertai sepasang suami istri gendruwo dan wewe adalah benda-benda yang diarak untuk kemudian diberangkatkan ke Balai Desa Ambarketawang, lokasi tempat Bekakak Gamping dilakukan. Kemudian dilakukan aneka kegiatan, seperti tirakatan, tahlilan, atau pentas seni seperti wayang kulit dan uyon-uyon.

Pada keesokan harinya dilanjutkan kirab pengantin Bekakak. Tahapan kedua ini berupa arak-arakan pengantin menuju suatu tempat penyembelihan di Gunung Kliling. Sebagian besar penduduk Gamping ikut mengarak dengan membawa sesaji sambil memakai busana adat.
Prosesi selanjutnya adalah penyembelihan pengantin Bekakak. Dua pengantin yang terbuat dari beras ketan yang diarak tadi disembelih, atau lebih tepatnya dipotong-potong, dan kemudian dibagi-bagikan kepada para pengunjung.

Bersama itu pula dibagikan sesajian dan makanan. Acara dilakukan dua kali, yang pertama di Gua Gung Ambarketawang dan yang kedua di Gunung Kliling, yang berjarak sekitar 2 km.
Yang memimpin upacara itu adalah sesepuh desa setempat, dengan diawali doa bersama memohon keselamatan bagi arwah leluhur, dan bagi masyarakat Gamping sendiri.

Upacara terakhir dari seluruh rangkaian acara Bekakak adalah Sugengan Ageng. Acara itu dilaksanakan di Pesangrahan Ambarketawang, Gamping, oleh seorang ulama sebagai pemimpinnya.
Prosesinya pertama-tama pembakaran kemenyan, dilanjutkan pembukaan dengan mengikrarkan adanya Sugengan Ageng tersebut, lalu pembacaan doa dalam bahasa Arab. Setelah usai, dilepaskanlah sepasang burung merpati putih dan dilanjutkan pembagian sesaji Sugengan Ageng yang berada dalam rahmat Allah kepada semua yang hadir, terutama makanan tawonan kegemaran Sultan Hamengku Buwono I.
Dengan selesainya pembagian sesaji tersebut, selesailah rangkaian acara Bekakak. Secara seremonial, acara Bekakak tergolong rumit dan penuh tahapan serta penuh dengan simbol, seperti aneka ragam makanan sampai pakaian. Secara esensi Bekakak merupakan hajat penyucian jiwa, memohon keselamatan, juga sebentuk upaya untuk mengenang roh leluhur yang telah berjasa bagi masyarakat Gamping.

tokhe on the net
Selengkapnya...

Kain Batik

Batik memiliki beragam motif. Tak hanya dari dalam negeri, batik ada yang berasal dari mancanegara, seperti Rusia.
Di Indonesia sendiri, motif batik juga bervariasi, diantaranya adalah batik Jogja dan batik Solo. Walau keduanya menggunakan ukel dan semen-semen, namun sebenarnya kedua batik ini berbeda. Perbedaannya terletak pada warnanya. Batik Jogja berwarna putih dengan corak hitam, sedangkan batik Solo berwarna kuning dengan corak tanpa putih.
Penggunaan kain batik ini pun berbeda-beda. Di Kraton Jogja, terdapat aturan yang pakem mengenai penggunaan kain batik ini. Untuk acara perkawinan, kain batik yang digunakan haruslah bermotif Sidomukti, Sidoluhur, Sidoasih, Taruntum, ataupun Grompol. Sedangkan untuk acara mitoni, kain batik yang boleh dikenakan adalah kain batik bermotif Picis Ceplok Garudo, Parang Mangkoro, atau Gringsing Mangkoro.
Saat ini batik telah menjadi tradisi baru di tengah masyarakat. Tak hanya sandang yang menggunakan kain batik sebagai bahannya. Sarung bantal, gordyn, dan seprei pun telah ada yang menggunakan kain batik. Ini adalah awal mula yang baik bagi pelestarian seni batik. Awalnya harus mencintai dahulu, kemudian muncul rasa andarbeni (memiliki) dan akhirnya nguri-uri (melestarikan).
Kesadaran ini sudah mulai dan terus digalakkan. Batik Tamanan Kraton pun dibentuk untuk khusus membatik motif Kraton Jogja.

Tokhe on the Net
Selengkapnya...

Batik Pasar Beringharjo

Kalau kota Solo terkenal dengan Pasar Klewer-nya, Jogja terkenal dengan Pasar Beringharjo. Pasar tradisional yang terletak di jalan Malioboro bagian selatan dan dekat dengan benteng Vredeburg ini merupakan salah satu ciri khas Jogja. Pasar ini sangat luas dan terdiri dari tiga lantai dengan masing-masing lantai dan tempat memiliki pos barang dagangan yang berbeda-beda. Kali ini Anda akan diajak untuk menjelajahinya dan mendapatkan berbagai barang yang Anda cari. Namun terlebih dulu siapkan diri untuk berdesakan dan menawar harga. Anda siap? Ayo...!!!!
Salah satu oleh-oleh yang banyak tersedia di Pasar Beringharjo adalah batik mengingat batik juga menjadi salah satu barang khas Jogja. Kalau dulu batik identik dengan hal-hal yang berbau tradisional sehingga lekat dengan adat Jawa dan orang tua, kini sudah menjadi salah satu tren untuk semua umur.

Koleksi batik di pasar ini cukup lengkap, baik untuk anak-anak, remaja, dan orangtua, semua tersedia dalam berbagai model, termasuk jika Anda ingin membeli batik yang seragam untuk keluarga. Berbagai macam batik dapat ditemukan di sini, dari kain batik, jarit (kain batik untuk bawahan berbusana jawa), baju batik untuk resepsi atau acara resmi, daster batik, seprei batik, sampai dengan asesoris rumah dari batik.
Kios-kios yang ada di pasar Beringharjo ini menjual berbagai batik yang dibuat oleh para pengusaha kelas kecil dan menengah sehingga tidak banyak merek terkenal atau merek tertentu, meskipun ada beberapa. Jadi pasar ini tepat buat mereka yang tidak fanatik terhadap satu merek batik tertentu.
Jajaran kios batik ini terletak di bagian depan sayap kiri pasar dan bagian dalam setelah memasuki pintu utama sampai dengan 75 meter ke belakang. Banyak sekali kios-kios yang menjual berbagai hal berbau batik, jadi Anda dapat berkunjung dari satu kios ke kios yang lain. Harganya pun sangat beragam, dari yang belasan ribu sampai puluhan ribu bisa ditemukan. Kunci untuk berbelanja di tempat ini adalah kepintaran untuk memilih barang dengan kualitas yang bagus dan kemampuan untuk menawar. Bukan tidak mungkin, barang yang didapatkan kualitasnya tidak terlalu bagus tetapi harganya cukup tinggi.
Terdapat dua pilihan Batik yang dijual di Pasar Beringharjo yaitu batik cetak dan batik tulis. Batik cetak adalah batik yang motifnya dicetak dengan mesin, sedangkan batik tulis motifnya dibuat asli perlahan-lahan dari tangan si pembuat dengan menggunakan bahan malam dan alat yang bernama canting. Untuk membedakannya, perhatikan bagian dalam dan luar kain batik yang akan dibeli. Jika bagian dalam dan luar tidak sama, yaitu bagian luar tercetak jauh lebih jelas, maka itu merupakan batik cetak, tetapi jika bagian dalam dan luar sama, itulah batik tulis. Karena rumitnya pembuatan, harga batik tulis relatif jauh lebih mahal.

Batik di Pasar Beringharjo dapat dibeli dalam jumlah yang besar karena selain wisatawan yang membeli oleh-oleh batik secukupnya, pasar ini merupakan pusat grosir penjual batik eceran di Jogja maupun luar Jogja. Sayangnya, pasar ini hanya buka sampai jam 5 sore.
Satu lagi yang perlu diingat, Pasar Beringharjo, seperti pasar-pasar lainnya adalah tempat umum yang rawan copet. Berhatilah-hatilah dengan barang berharga Anda, siapa tahu, ada copet yang sedang mengawasi. Siapkah Anda berbelanja batik?


Sumber tokhe : www.trulyjogja.com
Selengkapnya...

Lesehan Jogja

Cerita warung lesehan di Jogjakarta amat terkenal. Setiap wisatawan yang datang berkunjung ke Jogja, baik domestik maupun mancanegara, hampir selalu menyempatkan diri makan di warung-warung lesehan. Bahkan ada yang mengatakan, berlibur ke Jogja tidaklah afdol jika belum merasakan nikmatnya makan ala lesehan.
Warung lesehan yang melegenda di setiap telinga orang luar Jogja adalah lesehan yang terletak di kawasan Malioboro. Tak heran karena kawasan itu merupakan kawasan wisata yang amat populer sehingga kerap diasosiasikan dengan wisata Jogja. Padahal jika kita mengelilingi sudut-sudut kota Jogja, terutama di waktu malam, banyak warung lesehan yang dapat kita temui seperti di ruas Jalan Solo, Jalan Ahmad Dahlan, Jalan Magelang, Pojok Benteng Kulon dan beberapa ruas jalan lainnya.
Suasana akrab dan kesan hangat yang diciptakan oleh warung-warung lesehan menjadi data tarik bagi para pengunjung. Selain itu, gaya makan seperti itu bisa lebih mudah mencairkan suasana dan menimbulkan kebersamaan antara satu sama lain. Jika kita melihat ke masa lalu, tradisi makan bersama di lantai (tanpa kursi) sudah ada sejak zaman nenek moyang kita. Dengan kata lain itu merupakan kebiasaan yang diwariskan turun temurun.
Bukan karena orang dulu belum mengenal fungsi sebuah kursi sehingga mereka lebih memilih duduk di lantai. Hal itu lebih disebabkan adanya nilai-nilai persamaan atau egalitarian yang mereka pelihara. Duduk sama rendah berdiri sama tinggi. Dengan menggunakan kursi, suasana yang terbangun adalah “ini kursi tempatku duduk!” Bandingkan dengan cara duduk lesehan di mana orang jarang sekali mengklaim kepemilikan terhadap tempat duduk, namun yang timbul justru kesan “Mari kita duduk bersama-sama di sini!”
Kebersamaan atau guyub memang sifat yang melekat pada orang Indonesia pada umumnya dan Jogja pada khususnya. Namun kita juga tidak bisa mengabaikan fakta bahwa ada pergeseran nilai tersebut di masyarakat. Saat ini jarang sekali orang bisa menikmati makan sebagi sebuah ajang bersosialisasi, bercengkrama dan menguatkan persaudaraan. Makan bisa jadi cuma sekedar mengisi kebutuhan perut. Setelah perut kenyang, maka urusan pun selesai.
Di warung-warung lesehan Jogja kita masih bisa melihat tradisi guyub yang merupakan warisan nenek moyang. Jika berkesempatan untuk mengunjungi warung lesehan di Jogja, pastikan anda merasakan nuansa kebersamaan yang tercipta di sana. Suasananya sangat menyenangkan, tidak formal, dan seringkali dialog antara penjual dan pembeli mengalir begitu saja, tanpa rekayasa. Pun komunikasi antar pembeli juga dengan mudah terjalin. Topik-topik yang dibicarakan di warung-warung itu pun bermacam-macam. Dari obrolan ringan seperti gosip penyanyi dangdut sampai yang serius seperti kenaikan harga BBM bisa dibacarakan di sini. Satu dua pengamen akan meramaikan suasana malam dengan iringan gitar mereka. Itulah kebersamaan yang ditawarkan oleh Jogja.

Sumber Tokhe : www.trulyjogja.com
Selengkapnya...

Upacara Grebeg Maulud

Upacara yang juga biasa disebut "Bedhol Songsong" oleh masyarakat Yogyakarta ini merupakan upacara puncak dari peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Upacara ini diselenggarakan pada tanggal 12 Maulud setiap tahunnya. Ini berarti pagi hari setelah perangkat gamelan kyai Nogowilogo dan Kyai Gunturmadu dibawa masuk kembali ke dalam keraton dan di simpan di bangsal Sri Manganti.
Upacara Grebeg Maulud dimulai dengan kirab atau parade kesatuan prajurit keraton yang mengenakan pakaian kebesaran masing-masing. Sedangkan puncak dari acara ini adalah iringan gunungan yang dibawa menuju Masjid Agung, dimana diselenggarakan do'a dan upacara persembahan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa.
Pada upacara ini, sebagian gunungan, yang dipercaya memiliki daya tuah terutama bagi kaum tani, dibagi-bagikan kepada masyarakat dengan cara diperebutkan. Masyarakat berebut mendapatkannya. Menutut anggapan mereka, dengan mendapatkan bagian dari gunungan ini, tekad mereka akan dapat semakin kuat. Dan bila di tanam di lahan persawahan, maka hasil panen mereka akan melimpah. Mereka meyakini bahwa khasiat do'anya dapat membawa berkah dari Tuhan berupa kesuburan dan terhindar dari berbagai hama perusak tanaman.
Tak hanya Upacara Grebeg Maulud, banyak upacara kebudayaan lainnya yang diselenggarakan di Yogyakarta. Salah satunya adalah Grebeg Besar yang diselenggarakan pada tanggal 10 Bulan Besar, berkaitan dengan peringatan Hari Raya Qurban – Idhul Adha. Upacara lainnya adalah Grebeg Syawal yang di selenggarakan pada tanggal 1 Syawal sebagai ucapan terimakasih dan rasa syukur masyarakat Yogyakarta kepada Tuhan, dengan telah berhasil diselesaikannya ibadah puasa Ramadhan selama satu bulan penuh.

tokhe on the net
Selengkapnya...

Berebut ’Udhik-udhik’, Memburu ’Kinang’

Budaya ngalap berkah menjelang prosesi miyos gangsa Sekaten, Senin (2/3) malam di Bangsal Ponconiti, masih terasa. Ribuan orang dari berbagai wilayah memadati seputar Keben Kraton, Alun-alun Utara hingga Masjid Gedhe Kauman untuk mengikuti jalannya acara tersebut. Menandai dimulainya perayaan Sekaten dilaksanakan prosesi nyebar udhik-udhik oleh rayi dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X yakni GBPH Prabukusumo dan GBPH Yudhaningrat di Bangsal Ponconiti Keben.
Sekitar satu jam sebelumnya ratusan orang sudah menanti. Ada yang caos dhahar kepada gangsa Kyai Guntur Madu dan Kyai Nagawilaga yang dibunyikan oleh abdi dalem Kridha Mardawa. Mereka membawa bunga, kemenyan, kinang dan uang sekadarnya untuk wajib. Budaya seperti ini kata KRT Wasesowinoto yang mendapat dhawuh menyerahkan gamelan kepada panitia Sekaten, sudah ada sejak lama. Dulu, mereka melakukan itu dengan harapan mendapat berkah berupa ketenangan. Sampai sekarang budaya itu masih dilakukan. Selain caos dhahar udhik-udhik yang dilemparkan kedua rayi dalem itu juga menjadi sarana mencari ketenangan.
Di seputar Kraton juga bermunculan para pedagang pernak-pernik khas Sekaten ada sega gurih, pecut dan endhog abang yang berjualan setahun sekali dalam perayaan Sekaten dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Kyai Guntur Madu dan Kyai Nagawilaga dibawa dari Bangsal Ponconiti menuju Pagongan Lor dan Pagongan Kidul Masjid Gedhe Kauman menjelang tengah malam. Di Pagongan Lor dan Pagongan Kidul kedua gamelan dibunyikan sehari 3 kali kecuali hari Jumat sampai dibawa kembali Kraton pada malam menjelang grebeg Mulud. Dulu, bunyi gamelan ini digunakan untuk syiar agama memanggil masyarakat supaya beribadah.

sumber tokhe : Kedaulatan Rakyat
Selengkapnya...

Bahasa Jawa; Bertahan Digerus Zaman

Saat ini, sebagai sebuah bangsa, kita dihadapkan dengan masuknya kebudayaan-kebudayaan baru dari luar negeri. Kebudayaan tersebut disadari atau tidak memberikan pengaruh terhadap kebudayaan yang kita miliki sendiri selama ini. Di dalam sebuah era di mana batas-batas wilayah menjadi tidak relevan lagi, seolah-olah semua budaya tampak seragam. Dengan kondisi seperti itulah perlunya sebuah bangsa memiliki identitas dan jati diri sendiri. Identitas itu bukan saja menjadi pembeda tetapi seharusnya juga menjadi sebuah kebanggaan.
Di saat kita menggali identitas kita sebagai sebuah bangsa, kita sering tidak menyadari bahwa justru sebetulnya kita telah meninggalkan apa yang kita miliki sejak zaman dulu. Kebudayaan daerah Indonesia sangat beragam dan menarik. Ironisnya itu justru terabaikan khususnya oleh para generasi muda.
Seperti halnya bahasa Jawa yang keberadaannya saat ini memprihatinkan. Generasi muda saat ini ini enggan menggunakan Bahasa Jawa karena alasan kepraktisan. Di samping itu dengan maraknya bentuk bahasa baru, yang kerap kali disebut bahasa gaul, bahasa Jawa semakin terpinggirkan bahkan dalam masyarakat Jawa sendiri. Penggunaan bahasa Jawa saat ini pun kerap kali diselingi bahasa lain seperti bahasa Indonesia. Sering pula penggunaannya tidak sesuai dengan unggah-ungguhing basa (undha-usuk, tataran).
Menurut sebuah penelitian yang dilakukan oleh Fathur dan kawan-kawan (1997) pada keluarga pengguna bahasa Jawa, pemakai setia bahasa Jawa yang baik saat ini lebih banyak didominasi oleh kalangan umur 50 tahun ke atas, baik itu di desa maupun di kota. Sebanyak 72 persen kalangan berusia 30-49 tahun menggunakan bahasa Jawa di daerah pedesaan dan bagi mereka yang tinggal di kota sejumlah 54% menggunakan bahasa campuran. Pada kalangan berusia 30 tahun ke bawah, angkanya sangat menyedihkan karena pemakai bahasa Jawa tercatat sangat rendah yaitu 18%.
Selama ini bahasa Jawa hanya diajarkan secara formal di sekolah melalui program muatan lokal (mulok). Melihat realitas yang diungkapkan oleh penelitian di atas, maka keefektifan pengajaran bahasa Jawa lewat program mulok perlu dipertanyakan. Jangan-jangan pengajaran itu hanya terbatas pada formalitas belaka. Sedangkan gairah dan ketertarikan siswa terhadap bahasa Jawa tidak pernah dibangkitkan. Jika demikian, siapa yang mewarisi budaya daerah kelak?
Bahasa bukan sekedar media untuk berkomunikasi dan bukan pula sekedar penyampai informasi. Bahasa adalah unsur budaya yang menggambarkan nilai-nilai yang ada di dalam masyarakat. Bagi orang Jawa, bahasa Jawa dianggap memiliki nilai-nilai luhur dan merupakan kekayaan budaya yang tidak ternilai. Namun sayangnya, eksistensi bahasa Jawa sendiri telah mengalami kemunduran. Saat ini menggunakan bahasa Jawa dianggap sudah kuno dan ketinggalan zaman, khususnya bagi para kalangan remaja.
Membangkitkan kembali gairah berbahasa Jawa yang baik dan benar tentu saja bukan merupakan hal yang mudah di zaman seperti ini. Padahal suatu bangsa tidak akan pernah maju jika masyarakatnya sendiri tidak pernah membanggakan budaya bangsa sendiri. Bangsa lain yang telah maju, seperti Jepang dan Korea, bisa berada di depan kita karena mereka bangga dengan budaya sendiri. Ketika orang lain bisa mengapresiasi kekayaan bagsa sendiri, mengapa kita tidak?

Sumber tokhe : http://www.trulyjogja.com/
Selengkapnya...

Aksara Jawa, Cikal-Bakal Sejarah Jawa

Aksara Jawa, merupakan salah satu peninggalan budaya yang tak ternilai harganya. Bentuk aksara dan seni pembuatannya pun menjadi suatu peninggalan yang patut untuk dilestarikan. Tak hanya di Jawa, aksara Jawa ini rupanya juga digunakan di daerah Sunda dan Bali, walau memang ada sedikit perbedaan dalam penulisannya. Namun sebenarnya aksara yang digunakan sama saja.
Di bangku Sekolah Dasar, siswa-siswi di Yogyakarta pasti tak asing dengan pelajaran menulis aksara Jawa. Namun tahukah kita bahwa Aksara Jawa yang berjumlah 20 yang terdiri dari Ha Na Ca Ra Ka Da Ta Sa Wa La Pa Dha Ja Ya Nya Ma Ga Ba Tha Nga dinamakan Aksara Legena?
Ya, Aksara Legena merupakan aksara Jawa pokok yang jumlahnya 20 buah. Sebagai pendamping, setiap suku kata tersebut mempunyai pasangan, yakni kata yang berfungsi untuk mengikuti suku kata mati atau tertutup, dengan suku kata berikutnya, kecuali suku kata yang tertutup oleh wignyan, cecak dan layar. Tulisan Jawa bersifat Silabik atau merupakan suku kata. Sebagai tambahan, di dalam aksara Jawa juga dikenal huruf kapital yang dinamakan Aksara Murda. Penggunaannya untuk menulis nama gelar, nama diri, nama geografi, dan nama lembaga.
Aksara Jawa ternyata juga mengalami peralihan. Ada Aksara Jawa Kuno dan Aksara Jawa baru. Namun sulit untuk mengetahui secara pasti kapan masa lahir, masa jaya, dan masa peralihan aksara Jawa kuno dan aksara Jawa baru. "Sangat sulit menemukan kapan lahir ataupun peralihannya. Dikarenakan juga masih sedikit orang yang melakukan penelitian tentang hal ini," jelas Dra. Sri Ratna Sakti Mulya, M. Hum, Dosen Sastra Jawa UGM. Diprediksi Aksara Jawa Kuno ada pada jaman Mataram Kuno. Aksara Jawa Kuno juga mirip dengan Aksara Kawi. "Jika mau diurut-urutkan, sejarah Aksara Jawa ini berasal dari cerita Aji Saka dan Dewata Cengkar," tambahnya.
Dari penulisannya pada jaman dahulu pun, ternyata Aksara Jawa dapat dibedakan menjadi 2, yaitu aksara yang ditulis oleh orang-orang Kraton dan aksara yang ditulis oleh masyarakat biasa - lebih dikenal dengan sebutan Aksara Pesisir. Aksara Kraton mempunyai bentuk yang jauh lebih rapi. Aksara-aksaranya ditulis dengan jelas dan rapi, serta naskah sering dihiasi dengan gambar ornamen-ornamen yang mempunyai arti tersembunyi. "Setiap gambar yang menghiasi halaman naskah, mempunyai arti dan maknanya masing-masing. Kadang juga dihiasi dengan tinta emas asli. Dan ini semuanya adalah tulisan tangan," jelas Bapak Rimawan, Abdi Dalem yang membantu mengelola Perpustakaan Pakualaman. Sedangkan aksara Pesisir, penulisannya kurang rapi.
Sebagai salah satu cara pelestarian, banyak koleksi naskah aksara Jawa sejak jaman dahulu tersimpan rapi di Perpustakaan Pakualaman dan Perpustakaan Kraton. Perpustakaan Pakualaman menyimpan sekitar 251 naskah kuno yang dikumpulkan mulai sejak masa Pakualam I hingga Pakualam VII.

tokhe on the net
Selengkapnya...

Bremoro Geni Absen di Upacara Adat Saparan Bekakak

Upacara Adat Saparan Bekakak Jumat (13/02) kemarin sangat meriah, disamping gunungan dan boneka Bekakak juga patung replika gendruwo, banyak peserta pendukung yang ikut andil meramaikan upacara adat tersebut termasuk puluhan bregada prajurit tradisional. Para pengunjung yang antusias datang untuk menyaksikan upacara adat tersebut, upacara ini merupakan upacara tradisi budaya yang diadakan setiap satu tahun sekali di bulan Jawa Sapar di Ambarketawang Gamping Sleman.
Namun, sayang sekali, salah satu pendukung upacara adat ini tidak dapat mengikuti upacara tradisional ini yaitu Bregada Bremoro Geni dari dusun Dowangan. Padahal persiapan maupun kelengkapan dari Bregada Bremoro Geni sudah matang baik mental maupun fisik. Berdasarkan pengamatan di lapangan waktu upacara adat yang dimulai dengan arak-arakan kirab bregada, memang Bregada Bremoro Geni memang tidak kelihatan. Dan banyak penonton yang menanyakan kenapa kok tidak tampak, karena Bregada Bremoro Geni adalah pasukan yang lain dari yang lain, baik dari perlengkapan persenjataan yaitu berupa busur panah maupun perform-nya. Disamping itu juga anggotanya sendiri masih tergolong muda muda.

tokhe onthe net
Selengkapnya...

Selapanan, Peringati Weton Bayi

Dalam budaya Jawa, kelahiran seorang anak manusia ke dunia, selain merupakan anugerah yang sangat besar, juga mempunyai makna tertentu. Oleh karena itu, pada masa mengandung bayi hingga bayi lahir, masyarakat Jawa mempunyai beberapa upacara adat untuk menyambut kelahiran bayi tersebut. Upacara-upacara tersebut antara lain adalah mitoni, upacara mendhem ari-ari, brokohan, upacara puputan, sepasaran dan selapanan.
Selapanan dilakukan 35 hari setelah kelahiran bayi. Pada hari ke 35 ini, hari lahir si bayi akan terulang lagi. Misalnya bayi yang lahir hari Rabu Pon (hari weton-nya), maka selapanannya akan jatuh di Hari Rabu Pon lagi. Pada penanggalan Jawa, yang berjumlah 5 (Wage, Pahing, Pon, Kliwon, Legi) akan bertemu pada hari 35 dengan hari di penanggalan masehi yang berjumlah 7 hari. Logikanya, hari ke 35, maka akan bertemu angka dari kelipatan 5 dan 7. Di luar logika itu, selapanan mempunyai makna yang sangat kuat bagi kehidupan si bayi. Berulangnya hari weton bayi, pantas untuk dirayakan seperti ulang tahun. Namun selapanan utamanya dilakukan sebagai wujud syukur atas kelahiran dan kesehatan bayi.
Yang pertama dilakukan dalam rangkaian selapanan, adalah potong rambut atau parasan. Pemotongan rambut pertama-tama dilakukan oleh ayah dan ibu bayi, kemudian dilanjutkan oleh sesepuh bayi. Di bagian ini aturannya, rambut bayi dipotong habis. Potong rambut ini dilakukan untuk mendapatkan rambut bayi yang benar-benar bersih, diyakini rambut bayi asli adalah bawaan dari lahir, yang masih terkena air ketuban. Alasan lainnya adalah supaya rambut bayi bisa tumbuh bagus, oleh karena itu rambut bayi paling tidak digunduli sebanyak 3 kali. Namun pada tradisi potong rambut ini, beberapa orang ada yang takut untuk menggunduli bayinya, maka pemotongan rambut hanya dilakukan seperlunya, tidak digundul, hanya untuk simbolisasi.
Setelah potong rambut, dilakukan pemotongan kuku bayi. Dalam rangkaian ini, dilakukan pembacaan doa-doa untuk keselamatan dan kebaikan bayi dan keluarganya. Upacara pemotongan rambut bayi ini dilakukan setelah waktu salat Maghrib, dan dihadiri oleh keluarga, kerabat, dan tetangga terdekat, serta pemimpin doa.
Acara selapanan dilakukan dalam suasana yang sesederhana mungkin. Sore harinya, sebelum pemotongan rambut, masyarakat merayakan selapanan biasanya membuat bancaan yang dibagikan ke kerabat dan anak-anak kecil di seputaran tempat tinggalnya. Bancaan mengandung makna agar si bayi bisa membagi kebahagiaan bagi orang di sekitarnya.
Adapun makanan wajib yang ada dalam paket bancaan, yaitu nasi putih dan gudangan, yang dibagikan di pincuk dari daun pisang. Menurut Mardzuki, seorang ustadz yang kerap mendoakan acara selapanan, sayuran yang digunakan untuk membuat gudangan, sebaiknya jumlahnya ganjil, karena dalam menurut keyakinan, angka ganjil merupakan angka keberuntungan. Gudangan juga dilengkapi dengan potongan telur rebus atau telur pindang, telur ini melambangkan asal mulanya kehidupan. Selain itu juga beberapa sayuran dianggap mengandung suatu makna tertentu, seperti kacang panjang, agar bayi panjang umur, serta bayem, supaya bayi hidupnya bisa tenteram.

tokhe on the net
Selengkapnya...

Mitoni, Ritual untuk Ibu dan Calon Bayinya

Kehamilan dipercaya merupakan fase di mana calon jabang bayi sudah mulai berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya melalui perantaraan sang ibu. Hubungan psikis antara ibu dan anak pun sudah mulai terjalin erat mulai dari fase ini. Bagi orang Jawa, kehamilan adalah bagian dari siklus hidup seorang manusia. Oleh karena itu keberadaan si calon jabang bayi selalu dirayakan oleh masyarakat Jawa dengan ritual yang bernama mitoni.
Mitoni sendiri berasal dari kata pitu atau tujuh. Hal itu karena mitoni diadakan ketika usia kandungan masuk tujuh bulan. Ritual ini bertujuan agar calon bayi dan ibu selalu mendapatkan keselamatan. Ada beberapa rangkaian upacara yang dilakukan dalam mitoni, yaitu siraman sebagai simbol, memasukkan telor ayam kampung ke dalam kain calon ibu oleh sang suami, ganti busana, memasukkan kelapa gading muda, memutus lawe/lilitan benang/janur, memecahkan periuk dan gayung, minum jamu sorongan, dan nyolong endhog (mencuri telur). Rangkaian upacara itu dipercaya sebagai prosesi pengusiran marabahaya dan petaka dari ibu dan calon bayinya.
Ritual mitoni sarat dengan simbolisasi. Upacara siraman, misalnya, adalah simbol pembersihan atas segala kejahatan dari bapak dan ibu si calon bayi. Sedangkan memasukkan telur ayam kampung ke dalam kain calon ibu adalah perwujudan dari harapan agar bayi bisa dilahirkan tanpa hambatan yang berarti. Memasukkan kelapa gading muda ke dalam sarung dari perut atas calon ibu ke bawah adalah simbolisasi agar tidak ada aral melintang yang menghalangi kelahiran si bayi.
Setelah itu calon ibu akan berganti pakaian dengan kain 7 motif. Para tamu diminta untuk memilih kain yang paling cocok dengan calon ibu. Sedangkan pemutusan lawe/lilitan benang atau janur yang dilakukan setelah pergantian kain masih bermakna agar kelahiran berjalan dengan lancar. Lilitan itu harus diputus oleh suami. Pemecahan gayung atau periuk mengandung makna agar saat nanti sang ibu mengandung lagi, diharapkan kehamilannya berjalan dengan lancar. Sedangkan upacara minum jamu sorongan (dorongan) berarti bayi bisa lahir dengan cepat dan lancar seperti disurung (didorong). Dan yang terakhir, mencuri endhog atau telur, merupakan perwujudan atas keinginan calon bapak agar proses kelahiran berjalan dengan cepat, secepat maling yang mencuri.
Untuk melakukan mitoni, harus dipilih hari yang benar-benar bagus dan membawa berkah. Orang Jawa memiliki perhitungan khusus dalam menentukan hari baik dan hari yang dianggap kurang baik. Selain itu, biasanya mitoni digelar pada siang atau sore hari. Hari yang dianggap baik adalah Senin siang sampai malam serta Jum’at siang sampai Jumat malam. Mitoni tidak bisa dilakukan pada sembarang tempat. Dulu mitoni biasa dilakukan di pasren atau tempat bagi para petani untuk memuja Dewi Sri, Dewi Kemakmuran bagi para petani. Namun mengingat dewasa ini sangat jarang ditemui pasren, maka mitoni dilakukan di ruang tengah atau ruang keluarga selama ruangan itu cukup besar untuk menampung banyak tamu. Anggota keluarga yang tertua seringkali dipercaya untuk memimpin pelaksanaan mitoni.
Setelah melakukan serangkaian upacara, para tamu yang hadir diajak untuk memanjatkan doa bersama-sama demi keselamatan ibu dan calon bayinya. Tak lupa setelah itu mereka akan diberi berkat untuk dibawa pulang. Berkat itu biasanya berisi nasi lengkap beserta lauk pauknya.

Sumber tokhe : www.trulyjogja.com
Selengkapnya...

Your Ad Here

Mesin Pencari Pekerjaan