===============================================================
Tampilkan postingan dengan label budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label budaya. Tampilkan semua postingan

Suran Mbah Demang Meriah

Pelaksasnaan upacara adat Suran Mbah Demang kali (12/12/10)ini sekaligus untuk merayakan hari jadi Desa Banyuraden ke 64. Rangkaian upacara adat yang meliputi pasar malam, kirab budaya, kenduri wilujengan dan pertunjukan wayang ini sangatlah berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya terutama kirab budaya, kirab budaya kali ini dimulai dari Balai Desa Banyuraden menuju tabon Mbah Demang dan kembali lagi ke Balai Desa Banyuraden Gamping Sleman.

Selain Bregodo Kasepuhan dari Cokrowijayan, Bremoro Geni dari Dowangan, BSW dari Mejing dan Kebumen dari Delingsari Ambarketawang, kirab budaya juga dimeriahkan dengan iringan Pasukan Berkuda juga Kereta yang membawa Bupati dan Wakil Bupati Sleman, selain itu juga ditampilkan Thek-Thek dari Dusun Geplakan, Pekbung dari Dukuh, dan kesenian tradisional jathilan dari 3 (dusun) yaitu Somodaran, Turusan dan Sukunan.

Prosesi kirab di tabon Mbah Demang atau lokasi sumur bersejarah dilakukan “lung tinampen” atau serah terima pusaka, kendi ijo dan 2 (dua) buah gunungan wuluwetu dari Ki Murdo Puspito selaku pimpinan kirab kepada Trah Mbah Demang yang diwakili oleh Abdul Kadir untuk selanjutnya dibagikan untuk para pengunjung.

Usai kirab dilaksanakan dengan kenduri wilujengan di Balai Desa Banyuraden dan dilanjutkan dengan pertunjukan wayang semalam suntuk dengan lakon “Semar Boyong” oleh dalang Ki Yuwono dari Sanggar Widya Permana.

Sementara itu di rumah tabon Mbah Demang disajikan kesenian tradisional Sholawatan dilanjutkan mandi ritual jamas atau srokal yang diikuti oleh keluarga Trah Mbah Demang mulai pukul 00.00 WIB tengah malam.
Selengkapnya...

Pelangi Budaya Bumi Merapi 2009 penuh Batik

Bregodo Bremoro Geni dari Dowangan Banyuraden mengikuti Kirab Pelangi Budaya Bumi Merapi, Rabu (2/12) yang diselenggarakan oleh Dinpar. Kab. Sleman di Jalan Magelang, Sleman. Kirab tahun yang menempuh jarak sekitar tiga kilometer dari Lapangan Mlati hingga Lapangan Denggung. Kirab kali ini diikuti lebih dari 4000 peserta dari berbagai kalangan kelompok seni.

Kelompok budaya meliputi bregada prajurit tradisional, kesenian tradisional yaitu kuntulan, badui, emprak, topeng poleng, wayang orang, putri sigrak, dan paguyuban budaya, komunitas mahasiswa dan perguruan tinggi. Kelompok pariwisata dan batik meliputi perhotelan, travel agent, para pengusaha batik, desa-desa wisata, dsb.

Sedangkan acara pendukung event Pelangi Budaya Bumi Merapi yang ditampilkan berupa pentas seni budaya yang meliputi jathilan, kobrasiswa, macapat, dolanan anak, dadhung awuk, barongsai dan karawitan anak.

Karnaval Pelangi Budaya Bumi Merapi ini merupakan kegiatan budaya yang merupakan wujud nyata dari keanekaragaman potensi budaya dan seni di Kabupaten Sleman yang dieksplorasikan melalui kreativitas dan inovasi para peserta karnaval.

Peserta kirab terdiri dari pejalan kaki dan kendaraan hias. Semua peserta mengenakan pakaian batik juga ornament batik pada setiap kendaraan. Hal ini sengaja dilakukan dalam rangka memperingati pengukuhan batik sebagai warisan khas leluhur Indonesia dari UNESCO.

Event ini diharapkan menjadi sarana aktualisasi sekaligus sebagai media internalisasi potensi seni dan budaya di kalangan para pelaku seni dan budaya. Tak hanya itu, kegiatan ini juga diharapkan mampu menjadikan wahana apresiasi positif bagi masyarakat umum dan wisatawan.


Foto Tokhe on the Net : ANTARA/Wahyu Putro A/ss/pd/09

Selengkapnya...

Batik Tidak Alami Lagi

Pewarna alami merupakan daya tarik batik Jawa yang sudah digemari masyarakat internasional sejak zaman kolonial. Sayangnya saat ini batik yang dijual dipasaran sudah tidak lagi menggunakan pewarna yang sepenuhnya alami.
Hal itu disampaikan Ketua Paguyuban Pecinta Batik Indonesia Sekar Jagad, Ir Larasati Suliantoro Sulaiman, Selasa (17/6) dalam Pameran Batik Nusantara, di Taman Budaya Yogya, Jalan Sriwedani.
“Padahal, sebelumnya para pembatik kita menggunakan pewarna alami. Tidak ada yang mengenal pewarna kimia,” ujarnya.
Merujuk pada buku Mussenbroeck KatoenVerven in Java (1877), Larasati menyatakan, lebih dari 75 pohon perdu dulunya dipakai manusia Jawa untuk mencelup dan menghasilkan lebih dari 36 keselarasan warna pada batik.
Namun, datangnya indigo synthetic (nila sintetis) dari Jerman pada 1897 membuat para pelaku usaha batik tak lagi menggunakan pewarna alami seperti yang diambil dari pohon nila (Indigofera tinctoria) dan pohon soga.
“Mereka beralih menggunakan pewarna kimia karena proses pencelupan warna yang lebih cepat. Padahal, kandungan karsinogennya tidak ramah lingkungan,” ujarnya.
Karena itu, dalam tiga tahun terakhir, batik dengan pewarna alami mulai diujicobakan di laboratorium oleh tim dari Institut Pertanian Yogyakarta untuk diperkenalkan kembali ke masyarakat luas sebagai batik yang mewakili budaya Jawa.
“Apalagi, batik sebagai salah satu ikon budaya Jawa, seharusnya memperlihatkan nilai keasliannya,” tambahnya.

Sumber Tokhe on the Net : http://krjogja.com
Selengkapnya...

Merti Desa, Sarat Makna dan Gugah Rasa Kebersamaan

Indonesia dulu terkenal dengan budaya guyub-nya. Satu rasa satu sama. Saat ini seiring dengan arus perubahan zaman yang disertai pergeseran tata nilai, struktur sosial masyarakat berubah dari masyarakat paguyuban menjadi patembayan. Masyarakat desa saat ini diidentikan dengan struktur paguyuban sedangkan masyarakat kota sama dengan patembayan.
Dengan adanya perubahan tata nilai, maka ada pula tradisi-tradisi yang berubah. Orang Jawa pada umumnya, termasuk orang Jogja setiap kali selesai melakukan panen raya selalu mengadakan upacara yang disebut Merti Desa. Merti Desa atau bersih desa merupakan sebuah wujud kearifan lokal yang sempat terombang-ambing di tengah arus perubahan nilai termasuk dengan derasnya nilai budaya asing yang masuk ke negeri kita. Kini semangat yang terkandung di dalam Merti Desa sepatutnya direvitalisasi dalam sebuah momen yang menggugah rasa kebersamaan masyarakat, khususnya di perkotaan, untuk sejenak melepaskan kesibukan kerja dan kembali menjalin komunikasi dengan tetangga atau masyarakat di lingkungan sekitar. Pemerintah Provinsi Yogyakarta saat ini kembali menggalakkan perayaan Merti Desa di kalangan masyarakat.
Merti Desa atau bersih desa pada hakikatnya merupakan sebuah kegiatan yang menjadi simbol rasa syukur masyarakat kepada Tuhan atas segala karunia yang diberikan-Nya. Karunia tersebut bisa berupa apa saja seperti rezeki, keselamatan atau juga kesalarasan dan ketentraman. Lebih dari itu, merti desa juga merupakan sebuah wadah di mana para penduduk bisa membina tali silaturahmi, saling menghormati, serta saling tepa selira. Seperti diketahui bersama bahwa ketiga hal tersebut sudah mulai jarang terkespresikan di dalam masyarakat. Padahal terlepas dari berbagai kemudahan teknologi yang bisa mempermudah tali silaturahmi misalnya, sebagai makhluk sosial sejatinya kita perlu berinterksi dan bertemu langsung dengan masyarakat lainnya.
Selain sebagai manifestasi rasa syukur kepada Yang Maha Esa, Merti Desa juga merupakan sebuah perwujudan keselarasan manusia dengan alam. Selama hidupnya manusia telah hidup berdampingan dengan alam dan mengambil banyak materi dari alam. Namun demikian, pemanfaatan itu tidak boleh terlepas dari tata cara sehingga bisa menimbulkan eksploitasi berlebihan terhadap alam. Padahal dalam hakikatnya manusia dan alam saling melengkapi. Jika dalam panen raya, masyarakat mendapatkan hasil yang banyak hal itu tentu saja tidak terlepas dari tata cara pengolahan alam yang baik.
Dalam upacara merti desa selalu ada gunungan yang dijadikan persembahan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Gunungan itu isinya bisa bermacam-macam. Namun pada umumnya gunungan dibuat hasil bumi lokal seperti buah pisang, ketela rambat atau pohon. Contohnya pada Merti Bumi yang dilaksanakan di daerah Turi Sleman, gunungan yang disajikan biasanya terbuat dari salak yang merupakan hasil bumi paling populer di sana.
Tata cara Merti Desa biasanya diawali dengan pengambilan air dari sendang atau sumber air setempat. Kemudian air tersebut dikirabkan dengan bersama dengan sesajen serta ubo rampe yang telah persiapkan. Jika daerah tersebut memiliki warisan pusaka, maka umumnya pusaka tersebut turut dikirabkan juga. Setelah selesai dikirabkan, gunungan dan ubo rampe akan diperebutkan oleh penduduk setempat. Sebagai rangakaian upacara Merti Desa, selalu ada acara kesenian tradisional seperti jathilan atau wayang kulit. Merti Desa dalam hal ini memang tempat yang sangat ideal untuk mempertemukan kembali masyarakat dari segala ritual atau kesibukan mereka sehari-hari.

Sumber Tokhe on the Net : http://www.trulyjogja.com
Selengkapnya...

Meriah Puncak Acara Hari Jadi Kabupaten Sleman ke-93

Puncak acara Hari Jadi ke-93 Kabupaten Sleman yang jatuh pada tanggal 15 Mei 2009 dilaksanakan dengan upacara di Lapangan Denggung pada pukul 15.00 WIB. Para peserta upacara berpakaian adat Jawa lengkap dan dilaksanakan dengan Bahasa Jawa. Peserta upacara merupakan karyawan dinas dan instansi di lingkungan Pemkab Sleman serta bregodo-bregodo prajurit, seni budaya dan paguyuban yang ada di Kabupaten Sleman.
Di daerah persiapan I atau DP I (Pendopo Parasamya) diikuti oleh Bregodo Prajurit Tambak Yuda, Bregodo Prajurit Bremoro Geni Dowangan, Pembawa Pusaka tombak Kyai Turunsih dan Rontek serta Bregodo Sekar Sedah. Di DP II diikuti oleh Bregodo Kesenian Badui, Sekretariat Dewan, Karyawan Dinas, Kantor, Badan serta 17 Kecamatan. Di DP III (Lapangan Mlati) diikuti oleh Bregodo Rampak Buta sebagai Cucuk Lampah, Bregodo Prajurit Delingsari, Tlatar, Tuk Si Bedug, Onggojoyo, Code, Ngetal, Ngrowodh, Mejing BSW, Bathok Bolu, Gamping Kidul, Kalirase, Bregas, Tunggul Wulung, Demang/Cokrowijayan, Purbaya Wotgaleh.
Upacara peringatan Hari Jadi di Lapangan Denggung dimulai dengan Tarian Pesona Lereng Merapi yang merupakan perpaduan unsur ragam gerak kesenian religius di Kabupaten Sleman yaitu badui, kubro, kuntulan, reog, jathilan dan sholawatan sebagai iringannya. Tarian ini dibawakan oleh siswa-siswi SLTA se Kabupaten Sleman (SMA 1 Kalasan, SMA 1 Ngaglik, SMA 1 Sleman, SMA 1 Seyegan dan SMA 2 Ngaglik) sejumlah ± 100 orang siswa. Gelar Tari Pesona Lereng Merapi ini menggambarkan kedinamisan masyarakat Sleman dalam membangun bumi Sembada Lereng Merapi dengan dilandasi rasa memiliki dan kecintaan terhadap kearifan seni budaya lokal.

Tokhe on the Net

Selengkapnya...

Kirab Bekakak; Kekayaan Budaya dari Gamping

Yogyakarta memang menyimpan beragam khasanah kebudayaan, yang mungkin masih jarang diketahui oleh para penduduk luar Jogja. Pun penduduk Jogja masih banyak yang awam tentang keanekaragaman budaya yang ada karena sebagian dari mereka adalah para pendatang. Salah satu kekayaan budaya yang gaungnya masih kalah menggema dibandingkan grebeg mulud adalah upacara Saparan atau dikenal pula dengan Kirab Bekakak.
Kirab bekakak yang diadakan setiap tahun di Gamping, Sleman ini sejatinya masuk dalam kalender pariwisata pemerintah Kabupaten Sleman dan pemerintah Provinsi DIY. Namun entah karena lokasi pelaksanaannya yang jauh dari pusat kota, atau lantaran faktor yang lain, acara yang satu ini memang jauh kemeriahannya dibandingkan grebeg mulud atau sekatenan. Acara ini sendiri diadakan tiap hari Jum’at, minggu ke tiga bulan Sapar (nama bulan dalam penanggalan Islam). Kenyataannya, kirab bekakak ini tidak kalah menarik untuk dinikmati dan diikuti.
Dalam setiap penyelenggaraannya, rute Kirab diawali dari Balai Desa Ambarketawang, berjalan menuju Pesanggrahan Ambarketawang yang terletak di Gunung Gamping. Dalam Kirab tersebut diaraklah dua pasang boneka penganten, disebut pula bekakak, yang dibuat dari tepung beras ketan yang diisi juruh atau gula merah yang dicairkan. Selain arakan bekakak, Kirab juga diikuti oleh brigade prajurit serta rombongan berbagai macam kesenian tradisional. Sesampainya di Pesanggarahan, penganten atau bekakak tersebut disembelih hingga keluar juruh-nya dan kemudian disebarkan ke arah pengunjung.
Para pengunjung selalu dengan rela menunggu sambil berdesak-desakan untuk mendapatkan bagian dari bekakak tersebut. Mereka percaya, walaupun sedikit, tubuh bekakak yang terbuat dari ketan itu bisa mendatangkan berkah bagi mereka yang berhasil mendapatkannya. Tradisi seperti ini memang masih melekat pada sebagian masyarakat Jawa pada umumnya dan Jogja pada khususnya. Orang menyebutnya ngalap berkah.
Adapun cerita di balik penyelenggaraan kirab bekakak ini dipercaya berawal dari meninggalnya Ki Wirosuto bersama keluarganya akibat runtuhnya Gunung Gamping. Ki Wirosuto sendiri adalah abdi Raja Mataram Sultan Hamengkubuwono I. Upacara Saparan ini merupakan perintah dari Sultan kepada Demang Gamping untuk mengadakan selamatan dengan membuat sepasang boneka yang terbuat dari tepung beras ketan berisikan gula merah cair. Boneka tersebut harus disembelih sebagai simbolisasi pengorbanan Ki Wirosuto.
Adapula cerita lain yang menyebutkan bahwa tradisi ini ditujukan pula untuk keselamatan bagi penduduk setempat yang pada umumnya berprofesi sebagai pengambil kapur gamping. Konon dahulu banyak orang yang tergelincir dan meninggal saat mengambil batu gamping. Dan anehnya kecelakaan yang merenggut nyawa itu selalu terjadi pada bulan Sapar. Oleh karena itu dengan diadakannya tardisi Saparan, warga setempat percaya bahwa tradisi ini sanggup memberikan kedamaian serta ketentraman bagi mereka. Dengan menjaga dan melestarikan tradisi ini, segala kesialan dan mara bahaya dipercaya bisa menjauh dari masyarakat setempat.

tokhe on the net
Selengkapnya...

Berebut ’Udhik-udhik’, Memburu ’Kinang’

Budaya ngalap berkah menjelang prosesi miyos gangsa Sekaten, Senin (2/3) malam di Bangsal Ponconiti, masih terasa. Ribuan orang dari berbagai wilayah memadati seputar Keben Kraton, Alun-alun Utara hingga Masjid Gedhe Kauman untuk mengikuti jalannya acara tersebut. Menandai dimulainya perayaan Sekaten dilaksanakan prosesi nyebar udhik-udhik oleh rayi dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X yakni GBPH Prabukusumo dan GBPH Yudhaningrat di Bangsal Ponconiti Keben.
Sekitar satu jam sebelumnya ratusan orang sudah menanti. Ada yang caos dhahar kepada gangsa Kyai Guntur Madu dan Kyai Nagawilaga yang dibunyikan oleh abdi dalem Kridha Mardawa. Mereka membawa bunga, kemenyan, kinang dan uang sekadarnya untuk wajib. Budaya seperti ini kata KRT Wasesowinoto yang mendapat dhawuh menyerahkan gamelan kepada panitia Sekaten, sudah ada sejak lama. Dulu, mereka melakukan itu dengan harapan mendapat berkah berupa ketenangan. Sampai sekarang budaya itu masih dilakukan. Selain caos dhahar udhik-udhik yang dilemparkan kedua rayi dalem itu juga menjadi sarana mencari ketenangan.
Di seputar Kraton juga bermunculan para pedagang pernak-pernik khas Sekaten ada sega gurih, pecut dan endhog abang yang berjualan setahun sekali dalam perayaan Sekaten dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Kyai Guntur Madu dan Kyai Nagawilaga dibawa dari Bangsal Ponconiti menuju Pagongan Lor dan Pagongan Kidul Masjid Gedhe Kauman menjelang tengah malam. Di Pagongan Lor dan Pagongan Kidul kedua gamelan dibunyikan sehari 3 kali kecuali hari Jumat sampai dibawa kembali Kraton pada malam menjelang grebeg Mulud. Dulu, bunyi gamelan ini digunakan untuk syiar agama memanggil masyarakat supaya beribadah.

sumber tokhe : Kedaulatan Rakyat
Selengkapnya...

Bahasa Jawa; Bertahan Digerus Zaman

Saat ini, sebagai sebuah bangsa, kita dihadapkan dengan masuknya kebudayaan-kebudayaan baru dari luar negeri. Kebudayaan tersebut disadari atau tidak memberikan pengaruh terhadap kebudayaan yang kita miliki sendiri selama ini. Di dalam sebuah era di mana batas-batas wilayah menjadi tidak relevan lagi, seolah-olah semua budaya tampak seragam. Dengan kondisi seperti itulah perlunya sebuah bangsa memiliki identitas dan jati diri sendiri. Identitas itu bukan saja menjadi pembeda tetapi seharusnya juga menjadi sebuah kebanggaan.
Di saat kita menggali identitas kita sebagai sebuah bangsa, kita sering tidak menyadari bahwa justru sebetulnya kita telah meninggalkan apa yang kita miliki sejak zaman dulu. Kebudayaan daerah Indonesia sangat beragam dan menarik. Ironisnya itu justru terabaikan khususnya oleh para generasi muda.
Seperti halnya bahasa Jawa yang keberadaannya saat ini memprihatinkan. Generasi muda saat ini ini enggan menggunakan Bahasa Jawa karena alasan kepraktisan. Di samping itu dengan maraknya bentuk bahasa baru, yang kerap kali disebut bahasa gaul, bahasa Jawa semakin terpinggirkan bahkan dalam masyarakat Jawa sendiri. Penggunaan bahasa Jawa saat ini pun kerap kali diselingi bahasa lain seperti bahasa Indonesia. Sering pula penggunaannya tidak sesuai dengan unggah-ungguhing basa (undha-usuk, tataran).
Menurut sebuah penelitian yang dilakukan oleh Fathur dan kawan-kawan (1997) pada keluarga pengguna bahasa Jawa, pemakai setia bahasa Jawa yang baik saat ini lebih banyak didominasi oleh kalangan umur 50 tahun ke atas, baik itu di desa maupun di kota. Sebanyak 72 persen kalangan berusia 30-49 tahun menggunakan bahasa Jawa di daerah pedesaan dan bagi mereka yang tinggal di kota sejumlah 54% menggunakan bahasa campuran. Pada kalangan berusia 30 tahun ke bawah, angkanya sangat menyedihkan karena pemakai bahasa Jawa tercatat sangat rendah yaitu 18%.
Selama ini bahasa Jawa hanya diajarkan secara formal di sekolah melalui program muatan lokal (mulok). Melihat realitas yang diungkapkan oleh penelitian di atas, maka keefektifan pengajaran bahasa Jawa lewat program mulok perlu dipertanyakan. Jangan-jangan pengajaran itu hanya terbatas pada formalitas belaka. Sedangkan gairah dan ketertarikan siswa terhadap bahasa Jawa tidak pernah dibangkitkan. Jika demikian, siapa yang mewarisi budaya daerah kelak?
Bahasa bukan sekedar media untuk berkomunikasi dan bukan pula sekedar penyampai informasi. Bahasa adalah unsur budaya yang menggambarkan nilai-nilai yang ada di dalam masyarakat. Bagi orang Jawa, bahasa Jawa dianggap memiliki nilai-nilai luhur dan merupakan kekayaan budaya yang tidak ternilai. Namun sayangnya, eksistensi bahasa Jawa sendiri telah mengalami kemunduran. Saat ini menggunakan bahasa Jawa dianggap sudah kuno dan ketinggalan zaman, khususnya bagi para kalangan remaja.
Membangkitkan kembali gairah berbahasa Jawa yang baik dan benar tentu saja bukan merupakan hal yang mudah di zaman seperti ini. Padahal suatu bangsa tidak akan pernah maju jika masyarakatnya sendiri tidak pernah membanggakan budaya bangsa sendiri. Bangsa lain yang telah maju, seperti Jepang dan Korea, bisa berada di depan kita karena mereka bangga dengan budaya sendiri. Ketika orang lain bisa mengapresiasi kekayaan bagsa sendiri, mengapa kita tidak?

Sumber tokhe : http://www.trulyjogja.com/
Selengkapnya...

Aksara Jawa, Cikal-Bakal Sejarah Jawa

Aksara Jawa, merupakan salah satu peninggalan budaya yang tak ternilai harganya. Bentuk aksara dan seni pembuatannya pun menjadi suatu peninggalan yang patut untuk dilestarikan. Tak hanya di Jawa, aksara Jawa ini rupanya juga digunakan di daerah Sunda dan Bali, walau memang ada sedikit perbedaan dalam penulisannya. Namun sebenarnya aksara yang digunakan sama saja.
Di bangku Sekolah Dasar, siswa-siswi di Yogyakarta pasti tak asing dengan pelajaran menulis aksara Jawa. Namun tahukah kita bahwa Aksara Jawa yang berjumlah 20 yang terdiri dari Ha Na Ca Ra Ka Da Ta Sa Wa La Pa Dha Ja Ya Nya Ma Ga Ba Tha Nga dinamakan Aksara Legena?
Ya, Aksara Legena merupakan aksara Jawa pokok yang jumlahnya 20 buah. Sebagai pendamping, setiap suku kata tersebut mempunyai pasangan, yakni kata yang berfungsi untuk mengikuti suku kata mati atau tertutup, dengan suku kata berikutnya, kecuali suku kata yang tertutup oleh wignyan, cecak dan layar. Tulisan Jawa bersifat Silabik atau merupakan suku kata. Sebagai tambahan, di dalam aksara Jawa juga dikenal huruf kapital yang dinamakan Aksara Murda. Penggunaannya untuk menulis nama gelar, nama diri, nama geografi, dan nama lembaga.
Aksara Jawa ternyata juga mengalami peralihan. Ada Aksara Jawa Kuno dan Aksara Jawa baru. Namun sulit untuk mengetahui secara pasti kapan masa lahir, masa jaya, dan masa peralihan aksara Jawa kuno dan aksara Jawa baru. "Sangat sulit menemukan kapan lahir ataupun peralihannya. Dikarenakan juga masih sedikit orang yang melakukan penelitian tentang hal ini," jelas Dra. Sri Ratna Sakti Mulya, M. Hum, Dosen Sastra Jawa UGM. Diprediksi Aksara Jawa Kuno ada pada jaman Mataram Kuno. Aksara Jawa Kuno juga mirip dengan Aksara Kawi. "Jika mau diurut-urutkan, sejarah Aksara Jawa ini berasal dari cerita Aji Saka dan Dewata Cengkar," tambahnya.
Dari penulisannya pada jaman dahulu pun, ternyata Aksara Jawa dapat dibedakan menjadi 2, yaitu aksara yang ditulis oleh orang-orang Kraton dan aksara yang ditulis oleh masyarakat biasa - lebih dikenal dengan sebutan Aksara Pesisir. Aksara Kraton mempunyai bentuk yang jauh lebih rapi. Aksara-aksaranya ditulis dengan jelas dan rapi, serta naskah sering dihiasi dengan gambar ornamen-ornamen yang mempunyai arti tersembunyi. "Setiap gambar yang menghiasi halaman naskah, mempunyai arti dan maknanya masing-masing. Kadang juga dihiasi dengan tinta emas asli. Dan ini semuanya adalah tulisan tangan," jelas Bapak Rimawan, Abdi Dalem yang membantu mengelola Perpustakaan Pakualaman. Sedangkan aksara Pesisir, penulisannya kurang rapi.
Sebagai salah satu cara pelestarian, banyak koleksi naskah aksara Jawa sejak jaman dahulu tersimpan rapi di Perpustakaan Pakualaman dan Perpustakaan Kraton. Perpustakaan Pakualaman menyimpan sekitar 251 naskah kuno yang dikumpulkan mulai sejak masa Pakualam I hingga Pakualam VII.

tokhe on the net
Selengkapnya...

Posting yang tertunda (1)

Sudah lama Q pengen posting ini, but data ilang.... ya akhirnya copy paste dech.......

Semarak Pawai 'Hadeging Kutha Ngayogyakarta Hadiningrat'

Jumat siang (15/9/06), Jogja kembali menggelar acara puncak dalam rangkaian Hari Ulang Tahun Kota Jogja ke-250 tahun. Acara yang melibatkan ribuan masyarakat Jogja di segala lapisan ini disajikan dalam bentuk pawai yang sarat nuansa seni dan budaya.
Hari itu, beragam komunitas seni, sejumlah elemen mahasiswa dan masyarakat bersatu dan merayakan sebuah kebersamaan. Perjalanan panjang ditempuh guna menggambarkan asal mula kota Jogja. Acara yang terbagi dalam tiga estape ini menceritakan runtutan kejadian, bagaimana Jogja berdiri hingga terpusat di keraton Jogja saat ini.
Untuk estape pertama, berada di Rute Pesanggrahan Ambarketawang menuju Sekolah Guru Pendidikan Luar Biasa (SGPLB). Pawai menjadi meriah ketika gamelan raksasa Mpu Triwiguno, Bregada Prajurit Wirasuta Gamping Tengah, Songsong Wirasuta Mejing, Mbah Demang Banyuraden, serta beragam kesenian Kasihan, Bantul, dan Sleman beratraksi sembari berjalan.
Sedangkan estape kedua, dimulai dari SGPLB menuju Stasiun Ngabean. Lewat seni yang dipertunjukkan oleh Seni Wisnoe Wardhana, Sanggar Wasana Nugraha Sewon dan Natya Laksita Didik Ninik Thowok, PLT Bagong Kusuadiardja, dan SMKI Negeri Kasihan, Bantul atraksi pun dilakukan sembari mereka berjalan. Estape ketiga, berada Stasiun Ngabean hingga Alun-Alun Utara. Dengan terpusat di Perempatan Kantor Pos Besar, digelar pula atraksi dari Prajurit Keraton dengan Kereta Pusaka, prajurit Pakualaman, Paskibraka Kota, Ikatan Keluarga Mahasiswa pelajar Mahasiswa, Kesenian Reog Danurejan, dan Paksikaton.
Pawai seni dan budaya yang kental dengan pesan sejarah ini memang dilaksanakan sebagai refleksi masyarakat terhadap hari kelahiran kotanya. Dalam Pawai Hadeging Kutha Ngayogyakarta Hadiningrat ini, sebuah kearifan lokal yang diyakini oleh masyarakat kembali diingatkan. Filosofi "Hamemayu Hayuning Bawana" yang memuat ajaran "Tri Satya Brata" berarti sebuah harmoni hubungan antara insan dengan Sang Khalik, antar manusia dengan alam, pun dengan antarmanusia sendiri.
Dengan kirab ini, diharapkan Jogja mampu membangun kota dengan semangat folosofis yang diaktualkan dalam kehidupan sehari-hari. Aktualisasi tersebut berupa semangat yang dimiliki menuju kehidupan yang lebih baik. "Partisipasi dalam acara pawai ini menjadi sebuah momentum besar atas sebuah kebersamaan dan persaudaraan di antara masyarakat," tutur KRMT. Indro 'Kimpling' Suseno, Ketua Panitia HUT Kota Jogja ke-250 tahun.
Saking meriahnya, Perempatan Kantor Pos Besar yang menjadi titik pusat acara ini tumpah ruah dengan masyarakat. Mereka ingin menyaksikan atraksi dengan beragam seni bahkan berdesak-desakan sembari menonton. Menjelang malam, sebuah drama tari bertajuk 'Hadeging Kutha Ngayogyakarta' digelar sebagai puncak rangkaian Pawai Hadeging Kutha Ngayogyakarta.
Drama tari itu bercerita tentang sejarah berdirinya Kota Jogja. Dengan durasi singkat 20 menit, drama tari ini mampu membuat masyarakat, baik tua, muda, dan anak-anak mengingat tentang sejarah kota yang mereka diami, Jogja. Pada tempat yang sama, tepatnya belakang penonton yang membentuk lingkaran di kantor Pos besar, depan Bank BNI, ditampilkan pula iring-iringan komunitas yang siap tampil.
Di tengah hiruk pikuk suasana yang membuat masyarakat merasa puas, even ini juga mampu menarik minat wisatawan untuk berkunjung. Seorang turis dari Australia, Chaterine Dei misalnya, menyatakan tertarik dengan tampilan rangkaian acara ini. Baginya, ini adalah pesta masyarakat dengan memberikan pengalaman sejarah yang ditampilkan secara apik dan menarik.

Sumber tokhe : http://www.trulyjogja.com/ di sini
Selengkapnya...

Budaya Merapi Dipamerkan di Jalan

Karnaval budaya bertajuk ”Pelangi Budaya Merapi” yang digagas Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Sleman kemarin berlangsung meriah.
Diawali dengan pasukan atau bergodo Bermono Geni milik Pemkab Sleman, rombongan karnaval berparade dengan dimeriahkan sejumlah gadis cantik yang mengenakan daun pohon salak untuk penghias kostum. Untuk membantu kampanye pemanasan global, peserta kirab juga menampilkan rombongan para pengendara sepeda.
”Rombongan dengan tanaman salak dan gunungan salak itu adalah kelompok kesenian tari salak,” ujar Kepala Disbudpar Sleman Dwi Suprayitno di sela karnaval. Berbagai potensi budaya yang dimiliki warga Sleman ikut memeriahkan parade sepanjang sekitar 1 km tersebut di antaranya ketoprak, prajurit Dowangan, kuntulan, kubrosiswo, badui, jathilan, dadungawuk, reog, barongsai.
Tak urung, rute perjalanan dari Lapangan Klebengan, Bulaksumur, Depok hingga Taman Kuliner, menjadi macet. Para pengguna jalan banyak yang memanfaatkan tontonan gratis karnaval.

sumber tokhe :
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/195739/
Selengkapnya...

Kirab Pelangi Budaya Bumi Merapi

SLEMAN, KOMPAS. Acara kirab budaya dan kesenian bertajuk Pelangi Budaya Bumi Merapi yang baru pertama kali digelar di Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta, diwarnai turunnya hujan, Minggu (14/12). Meski demikian, parade yang melibatkan sekitar 500 peserta dari berbagai kelompok kesenian di Sleman itu berlangsung semarak.
Acara yang digelar sebagai salah satu agenda promosi wisata di Kabupaten Sleman itu melibatkan 34 kelompok kesenian dari sembilan kecamatan di wilayah Sleman. Di antaranya adalah komunitas sepeda onthel berbusana Jawa, ketoprak, prajurit Dowangan, dan kesenian religius Kuntulan.
Selain itu, ada pula kesenian jatilan, reog, barongsai, wayang orang, serta gabungan berbagai prajurit (bregada) dan kelompok karawitan. Parade dimulai dari Lapangan Klebengan, Kecamatan Depok, melintasi Jalan Samirono, Jalan Affandi (Gejayan), Perempatan Jalan Lingkar Condong Catur, dan berakhir di Taman Kuliner Condong Catur. Selama perjalanan sekitar 5 kilometer itu, rombongan mempertunjukkan kesenian masing-masing yang menarik perhatian warga dan turis. Bahkan, akibat rombongan yang memakan lebih dari separuh badan jalan, arus lalu lintas di beberapa titik mengalami kemacetan panjang.

Sumber tokhe :
http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/12/15/11095034/kirab.pelangi.budaya.bumi.merapi
Selengkapnya...

“Pelangi Budaya Bumi Merapi” Digelar

Event akbar karnaval “Pelangi Budaya Bumi Merapi” jadi digelar pada hari Minggu 14 Desember 2008 dengan start di Lapangan Klebengan dan berakhir di Taman Kuliner Condongcatur Sleman.
Event yang dimaksudkan untuk menggemakan dan menggelorakan potensi budaya di Kabupaten Sleman ini ditandai dengan parade atau kirab budaya yang melibatkan ribuan orang yang terbagi dalam berbagai kelompok, diantaranya komunitas sepeda onthel berbusana Jawa, kethoprak, prajurit Bremoro Geni Dowangan, kesenian religius Kuntulan, Kubrosiswo, Badui, jathilan dan pawang, dadung awuk, reog, barongsai, kesenian Bhinneka Tunggal Ika, prajurit Bregas, wayang orang, kesenian/ tarian salak pondoh, gabungan berbagai prajurit dan kelompok karawitan.
Karnaval direncanakan dimulai jam 09.00 WIB dari Lapangan Klebengan melintasi jalur Jalan Samirono – Jalan Affandi (Gejayan) – Perempatan Ring Road Condongcatur – dan finish di Taman Kuliner Condongcatur. Usai karnaval akan dilakukan acara seremonial diikuti dengan display dari berbagai bregada.
Karnaval yang bertajuk “Pelangi Budaya Bumi Merapi” ini menyajikan keanekaragaman potensi budaya lokal yang langsung bersentuhan dengan masyarakat yang meliputi upacara adat, upacara tradisi budaya, sanggar-sanggar seni budaya, dan sebagainya. Sehingga diharapkan dengan karnaval “Pelangi Budaya Bumi Merapi” masyarakat akan semakin mengenal dan mencintai budaya sendiri sebagai kekayaan yang adiluhung. Selanjutnya diharapkan pula dengan momen ini masyarakat dapat memberikan apresiasi positif sekaligus berupaya untuk melestarikan dan “nguri-uri” budaya yang apabila diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari dapat meningkatkan daya tahan budaya terhadap pengaruh negatif akulturasi budaya sebagai salah satu akibat globalisasi.

tokhe on the net
Selengkapnya...

Pelangi Budaya Bumi Merapi

Dalam upaya menggemakan dan menggelorakan potensi budaya di Kabupaten Sleman, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman akan menggelar event akbar “Pelangi Budaya Bumi Merapi”, yang acara puncaknya berupa Karnaval “Pelangi Budaya Bumi Merapi”, Minggu, 14 Desember 2008.
Event akbar “Pelangi Budaya Bumi Merapi” di penghujung tahun 2008 tersebut merupakan perpaduan dari berbagai kegiatan yang meliputi Festival Macapat Tingkat Nasional, Gelar Wayang Anak-Anak, Pameran Foto, Lomba Kreasi Kuliner Buah Tangan dan Karnaval “Pelangi Budaya Bumi Merapi”.
Sedangkan Karnaval “Pelangi Budaya Bumi Merapi” akan dimulai dari Lapangan Klebengan menuju Taman Kuliner Condongcatur Depok Sleman, dengan rute Lapangan Klebengan – Jalan Samirono – Jalan Affandi (Gejayan) – Perempatan Ring Road Condongcatur – Taman Kuliner. Rangkaian karnaval budaya ini diawali dengan Bregada, Sepeda Onthel Berbusana Jawa, diikuti dengan konfigurasi dan visualisasi yang menggambarkan makna simbolik berupa pengayoman, dinamika masyarakat yang religius, dinamis dan multikultural, kesuburan bumi Merapi, mata pencaharian masyarakat “Sembada” serta kondisi keamanan Kabupaten Sleman.
Konfigurasi dan visualisasi paling depan sebagai pembuka karnaval mengandung makna simbolik pengayoman yang menggambarkan ilustrasi bahwa setiap warga masyarakat Sleman dan siapapun yang bermukim diwilayah Sleman akan diayomi dalam suasana yang aman, yaitu dalam bentuk pethilan drama kethoprak dengan ceritera “Sumpah Palapa Gadjahmada”. Makna simbolik dinamika masyarakat yang religius, dinamis dan multi kultural secara berturut-turut digambarkan dalam kesenian badui, kobrasiswa, kuntulan, Slawatan Islam/Kristen, jathilan, angguk, seni thek-thek, gejog lesung, kelompok kesenian dari berbagai daerah.
Makna simbolik kesuburan bumi merapi digambarkan dengan penampilan 55 orang penari wayang orang yang membawa gunungan dan 100 orang penari salak pondoh. Makna simbolik mata pencaharian masyarakat “Sembada” digambarkan dalam bentuk Festival Andong Hias dengan peserta komunitas perhotelan, restoran, pariwisata, kerajinan, pendidikan, dsb dan instansi pemerintah yang memiliki kelompok binaan terkait dengan mata pencaharian masyarakat. Sedangkan makna simbolik kondisi keamanan digambarkan dengan parade Bregada ”Holobis Kuntul Baris”.
Dalam kesempatan yang sama, panitia menyediakan penghargaan dalam bentuk hadiah dan trophy kepada 5 (lima) peserta terbaik Festival Andong Hias, yang meliputi Juara I, Juara II, Juara III dan Juara Harapan I, Juara Harapan II. Sehubungan dengan hal tersebut, bagi insan pariwisata yang akan mengikuti Festival Andong Hias dapat menghubungi Dinas Kebudayan dan Pariwisata Kabupaten Sleman, Jl. KRT Pringgodiningrat No.13 Tridadi Sleman Telp. 0274 – 869 613.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman Drs. Dwi Supriyatno, MS mengungkapkan bahwa momen akhir tahun ini merupakan momen yang tepat untuk menggemakan dan menggelorakan potensi budaya Sleman. Acara "Pelangi Budaya Bumi Merapi” yang menggambarkan keanekaragaman potensi budaya lokal yang langsung bersentuhan dengan masyarakat yang meliputi upacara adat, upacara tradisi budaya, sanggar-sanggar seni budaya, dan sebagainya. Diharapkan dengan acara "Pelangi Budaya Bumi Merapi” masyarakat akan semakin mengenal dan mencintai budaya sendiri sebagai kekayaan yang adiluhung. Selanjutnya diharapkan pula dengan momen ini masyarakat dapat memberikan apresiasi positif sekaligus berupaya untuk melestarikan dan “nguri-uribudaya yang apabla diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari dapat meningkatkan daya tahan budaya terhadap pengaruh negatif akulturasi budaya sebagai salah satu akibat globalisasi.
Dwi mengharapkan event “Pelangi Budaya Bumi Merapi” seperti ini dapat menjadi event akbar tahunan yang mampu memberikan daya tarik terhadap wisatawan untuk datang berkunjung ke Sleman pada khususnya dan DIY pada umumnya.

Sumber tokhe :
Selengkapnya...

Your Ad Here

Mesin Pencari Pekerjaan